Made Wahyuni

Travel, Food and Everything in Between

  • Jakarta
  • Kepulauan Seribu
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Sumatera
  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Singapura
  • Vietnam
  • Personal
  • Publication
  • Portfolio
  • Contact
  • About

recent posts

  • Glamping di Leuweung Geledegan Ecolodge Bogor
  • Berwisata ke Faunaland dan Segarra Ancol
  • Berkunjung ke Scientia Square Park BSD
  • Da Nang Selayang Pandang
  • Belajar Masak di ABC Cooking Studio

about

  • Twitter
  • Facebook
  • Instagram
  • Danau Limboto – Gorontalo

    November 5, 2011

    Danau Limboto yang terletak di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo ini pernah jaya di masanya. Tahun 1932, luas Danau Limboto mencapai 7.000 ha dan kedalaman antara 2-4 meter dan menjadi permata Kota Gorontalo. Namun sayang, sekarang Danau Limboto meredup. Luas Danau Limboto berkurang menjadi 3.000 ha dan kedalamannya hanya 3 meter saja. Padahal peran Danau Limboto sangat penting untuk mencegah banjir di Gorontalo. Sewaktu saya kesana, Danau Limboto banyak dipenuhi tumbuhan eceng gondok. Dari atas pun Danau Limboto tidak nampak seperti danau lagi, hanya berupa rawa-rawa. Katanya, 15 tahun lagi Danau Limboto akan lenyap karena pedangkalan. Sayang sekali, ya 😦

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Artikel TN Gunung Halimun di Top Idol

    October 28, 2011

    Thank You, Rina Ruslaini 🙂

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Heyho Manado !

    October 16, 2011

    Akhirnya, untuk pertamakalinya saya menjejaki tanah Manado bersama dengan karib saya Katarina Wulandari, yay!.  Kami harus menempuh perjalanan udara selama 3 jam. Bisa dibayangkan dong, orang seaktif kami disuruh duduk manis di pesawat selama 3 jam? mati gaya pastinya. Dan akhirnya kami main-main dengan kamera, memotret lewat jendela pesawat.

    Berikut hasil “mati gaya” kami di pesawat :

    *Turut berduka cita atas meninggalnya Inneke Rotinsulu-Mantiri, ibunda dari Matilda Esther Rotinsulu. Rest In Peace, Tante….

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Termangu di Curug Seribu

    Termangu di Curug Seribu

    September 6, 2011

    Baru-baru ini saya membaca berita tentang 4 orang yang tewas tenggelam di Curug Seribu. Saya jadi teringat perjalanan saya ke Curug Seribu tahun lalu bersama Mas teguh Sudarisman, Mbak Didith, Imel dan temannya Kris. Rute yang kami lalui dari Kota Bogor banyak dibantu oleh GPS karena kami berempat belum pernah ada yang ke Curug Seribu. Perjalanan yang lumayan lama ini akhirnya menemukan titik cerah ketika kami sampai di Kawasan Gunung Salak Endah, Cibatok, Bogor. Kami sempat mampir sebentar di bumi perkemahannya dan makan jagung bakar sambil menikmati suasana yang sejuk dan segar ditambah pemandangan hutan pinusnya yang menawan.

    Kami berangkat dari Jakarta udah siang, jadi sampai di Kawasan Gunung Salak Endah pas udah waktunya makan siang. Perut udah mulai berisik minta diisi. Akhirnya kami jalan dulu deh cari makan siang di dekat Curug Cigamea. Kawasan Gunung Salak Endah ini memang banyak obyek wisatanya. Ada Kawah Ratu, Curug Cigamea dan Curug Seribu. Iming-iming Curug Cigamea yang medannya lebih mudah dan lebih dekat dari Curug Seribu tidak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi Curug Seribu. Kalau mau mampir dulu ke Curug Cigamea waktunya sih kayaknya engga cukup ya, takut pulangnya kesorean. Lagian pas banget waktu itu hujan melanda.

    Kayaknya waktu itu kami salah ambil jalan masuk ke Curug Seribu, deh. Soalnya jalanannya menanjak dan berbatu-batu. Sepi lagi. Mbak Didith sang pengemudi akhirnya memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di halaman sebuah villa dan kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki diiringi hujan gerimis. Sekitar 10 menit berjalan akhirnya sampai juga kita di Gerbang Curug Seribu. Petugas disana memberi tahu bahwa kita harus berjalan lagi selama sekitar 30 menit untuk mencapai Curug Seribu. Berhubung yang ngomong petugas kehutanan yang pastinya sering melewati medan, saya tidak begitu saja percaya dan mematok waktu 45 menit bagi diri saya sendiri untuk mencapai Curug Seribu. Pertama sih perjalanan masih santai, jalan setapaknya masih standar. Setelah melewati jembatan juga perjalanan masih rada biasa saja. Saya yang rada sotoy ini sempat meremehkan dan bilang kalau medannya cemen dan tidak seberat medan menuju Curug Cibeureum. Tapi ternyata…

    Jalanan menuju Curug Seribu penuh tantangan, ditambah dengan jalanan yang becek sehabis hujan maka perjalanannya menjadi luar biasa menantang. Kondisi jalannya licin, jalanannya sempit, tangga berbatunya licin dan deket jurang. Hiii. Kalau tidak dengan konsentrasi tinggi, salah-salah bisa kepleset deh. Saya yang tidak pernah berolahraga selain kalau ngetrip ini langsung deh ngos-ngosan dan keringet bercucuran.

    Sekitar 25 menit berjalan, Saya menemukan curug kecil. Kami menamakan curug ini Curug 999 karena dekat dengan Curug Seribu, padahal nama sebenarnya adalah Curug Sawer. Lumayan juga sih istirahat sebentar di Curug Sawer sambil merendam kaki di airnya yang dingin sambil foto-foto tentunya. Pengennya sih berhenti sampai di Curug Sawer karena kaki udah mulai pegel-pegel. Tapi karena belum sampai Curug Seribu, saya membulatkan tekad melanjutkan perjalanan yang menyiksa ini.

    Sekitar 200 meter dari curug Sawer, akhirnya sampailah kita di Curug Seribu yang tercinta. Kayaknya enggak sia-sia deh perjalanan saya karena pemandangan disini keren banget. Curug Seribu adalah air terjun yang tertinggi yang pernah saya temui. Airnya deras sampai menciprat kemana-mana sehingga susah untuk memotret air terjun setinggi 100 meter ini. Di bawah Curug Seribu terdapat kolam dan batu-batu besar dan langsung mengalirkan airnya yang deras ke sungai. Karena waktu itu sehabis hujan, maka arusnya bener-bener deras dan bergemuruh. Demi keselamatan diri akhirnya kami memutuskan tidak turun ke bawah.

    Sebenernya agak nanggung sih cuma ngeliat sebentar Curug Seribu tanpa menjelajahi semua sisinya, tapi ya kondisi waktu itu memang bener-bener tidak memungkinkan. Kita juga takut hujan akan semakin deras sehingga menyulitkan perjalanan pulang. Akhirnya setelah mengambil beberapa foto sambil melindungi kamera agar tidak terkena rembesan air terjun kami balik arah pulang.

    Kasian deh, waktu sudah melewati setengah perjalanan kami bertemu dengan sepasang remaja yang kunci motornya hilang entah dimana. Mereka kembali lagi menyusuri jalan ke Curug Seribu untuk mencari kunci motornya yang hilang. Astagaaa…..

    Terlepas dari medannya yang menakjubkan itu, saya kepengen deh balik lagi ke Curug Seribu kapan-kapan di waktu dan cuaca yang tepat. Pengen foto-foto lagi disana. Yuk…. J

    Oh iya, dengan postingan ini saya sekalian ingin mengingatkan temen-temen untuk selalu berhati-hati di dalam setiap perjalanan yang temen-temen lakukan. Selalu waspada ya.

    *turut berduka cita untuk 4 korban tewas akibat tenggelam di Curug Seribu.

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Explore. Dream. Discover

    September 4, 2011

    “Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines, sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” – Mark Twain

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Rest In San Diego Hills

    September 3, 2011

    Untuk orang penakut seperti saya, kuburan atau makam adalah tempat yang sangat saya hindari. Tetapi ada pengecualian, yaitu kalau saya mengunjungi makam Belanda jaman dahulu yang banyak patung-patungnya macam di Museum Prasasti atau Pemakaman San Diego Hills. Tahun lalu bertepatan dengan pemakaman Bapak Michael D Ruslim, CEO PT Astra International, Tbk saya untuk pertama kalinya mengunjungi San Diego Hills. Bener deh, tempat ini tidak seperti pemakaman pada umumnya. Tidak ada kesan angker dan gelap. Kayaknya nih, Kuntilanak dan teman-temannya yang biasa mangkal di kuburan juga bakalan minder kalo mangkal disini :). Boleh dibilang pemakaman mewah ini kayak taman biasa aja dengan kuburan yang unik-unik. Oke juga nih untuk tempat hunting foto.

    San Diego Hills yang terletak di Karawang, Jawa Barat ini luasnya sekitar 500 Hektar. Dari hasil browsing-browsing, harga makam di San Diego Hills yang termurah adalah 8 juta rupiah. Yang termahal? yang milyaran juga ada. Berminat? 🙂

    Berikut foto-foto San Diego Hills hasil dari kamera Nikon Coolpix saya. Silahkan…..

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Suatu Hari di Sea World – Ancol

    September 2, 2011

    Di suatu hari Sabtu yang panas, saya dan teman-teman saya Joyce Astrini, Christy Marcia, Jane Samosir dan Cici Mardiana melancong ke Ancol. Yak, kelima warga Jakarta ini tiba-tiba mendapat ide menarik untuk mengunjungi Sea World. Biasanya sih, saya paling males ke Ancol apalagi saat wiken yang pasti bakal rame banget. Maklumlah, di Jakarta tidak banyak tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi sedangkan warganya sangat haus rekreasi. Hehehehe 🙂
    Untunglah waktu itu sedang Bulan Puasa jadinya Ancol tidak seramai biasanya.

    Sebenarnya tujuan utama kami adalah Seaworld. Tapi pas kita lihat jadwal pemberian makan ikan-ikannya kebanyakan jam 12 siang keatas, jadilah kami main-main dulu (dan foto-foto tentunya) di Ancol.
    Nah, pas jalan-jalan ini kita nemuin Dermaga Hati. Disini banyak gembok-gembok yang ada tulisan nama pasangan bergantung di rantai besi. Konon katanya, jika sepasang kekasih masang gembok yang bertuliskan nama mereka disini maka hubungan mereka akan abadi. Ritualnya, Setelah gemboknya dikunci, kunci gemboknya dibuang ke laut jadi supaya engga ada yang nemuin dan buka gemboknya lagi. Jadi penasaran, ada gak yang pernah masang gembok disini? 🙂

    Puas foto-foto di Dermaga Hati dan jembatan, kami lanjut makan siang di Bandar Jakarta. Kepiting dan kawan-kawannya menjadi korban keganasan 5 cewek yang kelaparan. Enyakk…


    Akhirnyaa….. Sea World!

    Giant Octopus

    Sea Horse

    Duo Dugong aka Ikan Duyung lagi dikasi makan

    Ikan Hiu! cakep yaaa

    Menurut saya kalau ke Sea World emang paling enak pas jamnya ngasi makan. Seru aja sih.  Apalagi di SharkQuarium. Jadi waktu paling pas buat ke Sea World itu jam 12 siang sampe jam 4 sore. Jangan sampe kelewat ya acara ngasi makan di SharkQuarium, karena paling kerenn. Penyelamnya dikerangkeng turun pelan-pelan dan langsung dikerubutin sama ikan Hiu Buto dan teman-temannya. Diakhir acara, semua ikannya disebar dan  hiu-hiu langsung berpesta pora ngejar ikan. Eh, Kalau kamu penasaran pengen megang hiu, di akuarium sentuh ada anak ikan hiu yang boleh dipegang-pegang. Lucu deh 🙂

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Selamat Hari Raya Idul Fitri

    Selamat Hari Raya Idul Fitri

    August 29, 2011



    *model : Reza Ariesca

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Artikel Pulau Onrust di Majalah Sekar

    July 30, 2011

    Versi lengkapnya bisa dibaca disini

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Sejenak Di Cikini

    July 23, 2011


    Siapa sangka, Cikini ternyata menyuguhi  remah-remah sejarah masa lalu Kota Jakarta yang sebagian masih bertahan menjadi bagian dari hiruk pikuk Kota Metropolitan.

    Belajar tentang sejarah, khususnya tentang sejarah kemerdekaan Indonesia dan sejarah kota Jakarta tidak melulu harus melalui buku. Sejenak menyusuri Cikini akan membawa kita kembali ke masa lalu tempat akar-akar sejarah itu berada yang akan menumbuhkan rasa cinta kepada Jakarta dan Indonesia.

    Cikini, salah satu daerah di Jakarta Pusat mungkin tidak terlalu terkenal diantara daerah-daerah lain di Jakarta. Beberapa teman saya bahkan bertanya, “Ada apa di Cikini?” ketika mendengar rencana saya menyusuri Cikini. Di hari Sabtu yang cerah, saya memulai perjalanan saya di Cikini di Gedung Joang’45. Gedung yang tampak tua namun kokoh itu menyambut saya dengan angkuhnya.

    Gedung Joang ’45 atau yang disebut juga Museum Joang ’45 dibangun pada tahun 1920an. Pada jaman penjajahan Belanda, gedung ini dikenal sebagai Hotel Schomper, yaitu hotel yang dikelola oleh keluarga L.C Schomper, yaitu seorang Belanda yang tinggal lama di Batavia. Pada tahun 1942, sewaktu Jepang menguasai Batavia, Hotel Schomper diambil alih oleh para pemuda Indonesia. Hotel Schomper lalu dijadikan kantor yang dikelola oleh Ganseikanbu Sendenbu. Di kantor inilah para pemuda Indonesia diberikan pendidikan politik yang dibiayai oleh pemerintah Jepang pada masa itu.

    Koleksi di Gedung Joang’45 adalah barang-barang peninggalan pejuang Indonesia. Salah satu benda koleksi yang menjadi favorit saya adalah sebuah mesin jahit yang dahulu kerap dibawa oleh Laskar Wanita (Pejuang Wanita Indonesia) untuk menjahit baju para pejuang Indonesia. Tidak bisa dibayangkan bagaimana laskar wanita membawa mesin jahit di tengah medan pertempuran yang keras dan berpindah-pindah itu. Selain mesin jahit, baju dan juga peralatan makan Laskar Wanita dipamerkan di gedung ini. Hal ini menandakan bahwa kaum wanita juga mempunyai andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

    Gedung Joang ’45  mempunyai koleksi andalan berupa mobil dinas resmi Presiden dan Wakil Presiden RI Pertama dengan plat nomor mobil REP 1 dan REP 2. Selain itu juga ada mobil yang menjadi saksi pada penembakan Bung Karno ketika sedang mengantarkan anaknya bersekolah di Perguruan Cikini.

    Dari Gedung Joang’45 saya melanjutkan perjalanan ke Kantor Pos Cikini dengan berjalan kaki. Kantor Pos Cikini terletak di pertigaan Jl Cikini dan Jl Kalipasir yang cukup ramai. Pada jaman Belanda, kantor ini disebut juga Tjikini Post Kantoor. Sayang, Kantor Pos Cikini tutup di akhir Minggu sehingga saya tidak bisa melihat interior kantor pos yang pada jaman dahulu sering dipergunakan untuk berkirim surat oleh warga Batavia ini.

    Menyusuri ruko di Jalan Cikini seakan membuat kita terlempar sejenak ke masa lalu, dimana Jakarta masih bernama Batavia. Di deretan ruko yang masih menyisakan penggambaran arsitektur Belanda ini, tentu dulu sering berseliweran Meneer dan Mevrouw yang sedang menikmati sore di Kota Batavia. Salah satu toko yang paling dikenal adalah kafe Bakoel Koffie. Bakoel Koffie dahulu dikenal dengan nama Toko Tek Sun Ho yang berdiri sejak tahun 1878. Logo Bakoel Koffie yang berupa perempuan dengan bakul di kepalanya terinspirasi dari seorang perempuan dengan bakul di atas kepalanya yang kerap mengirimi Tek Siong biji kopi segar yang akhirnya dijual dengan label Tek Sun Ho. Di era tahun 1965, Toko Tek Sun Ho berganti nama menjadi Warung Tinggi. Pada tahun 2001, keluarga penerus Tek Sun Ho melahirkan nama baru untuk kedai kopi ini menjadi Bakoel Koffie yang terkenal sampai sekarang. Menyesap segelas Cappuccino hangat sambil menikmati suasana lewat jendela Bakoel Koffie akan dapat menyemarakkan lamunan tentang masa lalu.

    Setelah berjalan sambil melihat-lihat toko-toko dari balik jendela, sampailah saya di Toko Roti Tan Ek Tjoan. Roti Tan Ek Tjoan adalah perusahaan roti tertua yang lahir pada tahun 1930an di Bogor. Di Jakarta sendiri, tepatnya di Jalan Cikini Raya No. 61, Tan Ek Tjoan mulai beroperasi sejak tahun 1958. Kelezatan roti coklat buatan Tan Ek Tjoan tidak kalah lezat dengan roti-roti impor yang sedang menjamur di mal saat ini. Kelembutan rotinya dengan coklat manisnya pas sangat serasi berpadu. Roti isi daging juga patut untuk dicoba. Dagingnya sangat gurih dan terasa enak membuat lidah saya bergoyang dengan asyiknya. Selain Tan Ek Tjoan, ada satu lagi Toko Roti yang saya lewati. Toko Roti Maison Benny. Toko roti ini sudah ada sejak tahun 1957 dengan spesialisasi kue tart yang menggunakan resep khusus dari Belanda.

    Planetarium Jakarta merupakan pemberhentian terakhir saya di Cikini. Planetarium tertua ini berdiri pada tahun 1964 atas prakarsa dari Presiden Soekarno. Disini saya menonton salah satu film tentang tata surya di Teater Bintang. Saya disuguhi film tentang tata surya dan benda-benda langit lain seperti komet dan meteor. Planetarium Jakarta berada di kompleks Taman Ismail Marzuki yang dulu dikenal sebagai ruang rekreasi umum Taman Raden Raleh. Di kompleks Taman Ismail marzuki ini selain terdapat Planetarium Jakarta, juga terdapat Institut Kesenian Jakarta, enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip dan bioskop.

    Cikini menyimpan pesona tersendiri karena ternyata masih menyimpan potongan episode cerita Jakarta di masa lalu. Di tengah gempuran metropolitas Jakarta, segelintir saksi-saksi sejarah tertatih berusaha untuk tetap eksis menetapkan langkahnya di hiruk pikuk Cikini.

    *Pernah diposting di Blog saya yang lain

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
Previous Page Next Page

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • Made Wahyuni
      • Join 73 other subscribers
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • Made Wahyuni
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Report this content
      • View site in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar
    %d