Ketika Bhisma Gugur di Gedung Bharata

Wayang Orang Bharata 1

Mari mengintip Wayang Orang Bharata. Dari mulai melihat sesi latihan, menyelinap di ruang ganti pakaian hingga menyaksikan saat-saat terakhir gugurnya Resi Bhisma.

Hanya kenekatan dan keingintahuan yang besar yang membuat saya, orang Bali asli yang lahir dan besar di Jakarta, mengunjungi dan menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Bharata yang menggunakan Bahasa Jawa. Keingintahuan yang besar itu pulalah yang membuat saya menenggelamkan diri dalam kesibukan lalu lintas Pasar Senen di Sabtu sore yang panas. Gedung Bharata tidak begitu mencolok jika dibandingkan dengan gedung lain yang berjejer di kanan kirinya. Hanya sebuah tulisan Bharata yang cukup besar di depannya dan juga sebuah papan tulis yang bertuliskan lakon pertunjukan yang membedakannya dengan yang lain. Masuk ke dalam, saya sudah dibawa dengan suasana pewayangan dengan sebuah lukisan timbul besar yang menggambarkan anggota Pandawa Lima dalam cerita Mahabrata. Beberapa foto tentang pemetasan dan juga para awak Wayang Orang Bharata dipamerkan di dinding lobby.

Saya yang tidak punya bayangan sama sekali tentang Wayang Orang Bharata, mulai mendapat pencerahan sewaktu masuk ke dalam gedung dan melihat seluruh personil Wayang Orang Bharata latihan menjelang pementasan. Tua, muda, pria ataupun wanita, nampak asyik berlatih sesuai perannya masing-masing. Salah satu yang menjadi kekaguman saya adalah betapa luwesnya mereka menari dan olah gerak. Lebih kagum lagi waktu saya tahu bahwa pementasan Wayang Orang Bharata tidak memakai skenario. Para pemain bebas berimprovisasi asal masih sesuai dengan jalan cerita yang sudah ditetapkan.

Wayang Orang Bharata 2

Wayang Orang merupakan seni pertunjukan yang terlengkap. Selain terdapat tari-tarian, Wayang Orang juga diisi dengan tembang atau nyanyian dan juga alat musik gamelan yang paling lengkap. Hal tersebut juga yang menyebabkan pemain Wayang Orang Bharata harus memiliki syarat khusus yaitu bisa menari Jawa, bisa menembang, dapat menghapal perannya dan mengerti jalan cerita dengan baik. Cerita-cerita yang dimainkan di Wayang Orang Bharata biasanya merupakan potongan dari cerita epik Mahabrata atau Ramayana. Hanya sesekali saja mereka memainkan cerita lain yang masih berhubungan dengan cerita kehidupan manusia sekarang ini.

Sambil melihat para pemain Wayang Orang Bharata latihan, saya menyempatkan diri melihat tempat pertunjukan secara keseluruhan. Panggung tempat Wayang Orang pentas, memiliki beberapa sekat untuk tiap adegan yang dimainkan. Diatasnya terdapat running text untuk memberikan rangkuman adegan dalam bahasa Indonesia. Wah, untung ada running text Bahasa Indonesia, ya. Jadi untuk yang tidak mengerti Bahasa Jawa seperti saya tidak perlu khawatir menonton Wayang Orang Bharata.

Di bawah panggung terdapat tempat untuk para pemain gamelan beserta alat-alatnya yang super lengkap. Dalang dan juga empat orang sinden menempati tempat ini. Tempat para pemain gamelan dan sinden hanya dibatasi oleh pagar pembatas dengan tempat duduk VIP yang terdepan. Gedung Bharata juga memiliki balkon bagi para penonton yang membeli karcis dengan harga lebih murah. Puas melihat-lihat gedung pertunjukan Bharata, saatnya mengintip para pemain menyiapkan diri untuk pementasan.

Wayang Orang Bharata 3

Ruang ganti pemain Wayang Orang Bharata terdapat di lantai dua. Disini ada beberapa kamar yang dilengkapi dengan kaca rias dalam berbagai ukuran. Saya mengintip aktivitas di kamar ganti wanita. Semua pemain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang memulas bedak, ada yang sedang membuat alis, ada yang memoles lipstick. Semua dilakukan sendiri. Memang, salah satu ‘keahlian’ yang harus dimiliki oleh semua pemain Wayang Orang Bharata, baik lelaki atau perempuan adalah bisa merias wajah dan memakai kostum sendiri. Tidak ada juru rias ataupun pengarah kostum yang membantu. Makanya tidak heran jika para lelaki pemain Wayang Orang Bharata pintar memoles make up. Urusan make up ini tidak kalah penting karena make up harus bisa mendukung karakter dari si pemain. Senangnya melihat keakraban para pemain mengobrol dan becanda sambil memoles make up.

Wayang Orang Bharata 4

Bhisma pun Gugur

Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Para penonton sudah mulai memasuki ruang pertunjukan Wayang Orang Bharata. Layar pun dibuka. Adegan pertama lakon Bhisma Gugur adalah ketika Prabu Duryudana beserta Kurawa dan Patih Sengkuni sedang berpesta pora merayakan kemenangan atas gugurnya Resi Seto dan kedua saudaranya Utara dan Wratsangka di tangan Resi Bhisma. Para pemain sangat menghayati perannya masing-masing. Tiga penari tampil dan menari dengan luwesnya. Disinilah “perjuangan” saya dimulai. Dialog yang dimainkan oleh Wayang Orang Bharata semuanya menggunakan Bahasa Jawa. Saya berusaha memahami cerita dari ringkasan cerita di running text dan dari bahasa tubuh para pemain.

Singkat cerita, Prabu Duryodana memerintahkan kepada raja sekutunya untuk menggempur barisan Pandawa. Disinilah terjadi pertempuran antara Putra Pandawa dan pasukan sekutu Kurawa. Boleh dibilang, adegan favorit saya di Lakon Bhisma Gugur adalah adegan peperangan. Pemain WO Bharata memainkan adegan pertempuran dengan sangat baik. Ditambah iringan musik gamelan yang menghentak dan adegan pemain yang terkadang benar-benar terjatuh menjadikan semua adegan pertempuran di Lakon Bhisma Gugur ini menjadi sangat seru.

Wayang Orang Bharata 5

Ada hal unik dalam pertunjukan Wayang Orang Bharata. Jika kita biasanya menonton film di bioskop dan membawa makanan ringan atau popcorn, nah selama menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Bharata pun kita bebas membawa dan memesan makanan. Tidak tanggung-tanggung, makanan yang dipesan pun terdiri atas nasi goreng dan mie goreng. Penonton pun bebas memesan makanan langsung kepada para pedagang yang sesekali berseliweran ke dalam gedung untuk mengantarkan makanan.

Semua adegan di Lakon Bhisma Gugur dimainkan dengan apik oleh para pemain Wayang Orang Bharata. Tiga jam pertunjukan yang selesai pada tengah malam ini memberikan banyak pengetahuan buat saya. Wayang Orang Bharata memang memberikan banyak sekali gambaran kehidupan dan sopan santun dalam setiap pertunjukannya. Satu hal yang sudah banyak dilupakan di masa sekarang. Contohnya adalah bagaimana kita sebagai orang muda harus hormat dan berperilaku santun kepada orang yang lebih tua. Hal ini ditunjukan dalam adegan ketika para Pandawa harus berhadapan dengan Resi Bhisma yang merupakan paman mereka. Mereka tetap hormat dan menolak bertempur melawan pamannya sendiri.

Wayang Orang Bharata terus berusaha eksis untuk melestarikan budaya Indonesia, khususnya Budaya Jawa. Pak Marsam, pimpinan Wayang orang Bharata menitipkan harapan agar orang muda Indonesia dapat mengenal dan mencintai budaya Indonesia. Caranya? Mulai yuk dengan menonton Wayang Orang Bharata setiap Sabtu malam.

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Liburan edisi Bulan April 2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s