• Ada Saya di Tabloid Liburan Edisi Oktober 2010

    Kali ini bukan artikel saya yang dimuat tapi foto narsis saya berdua teman saya Katarina Wulandari yang nampang di Tabloid Liburan edisi Bulan Oktober 2010. Foto saya dan Kathy di kanan atas itu adalah foto di Universal Studios – Singapore. Saya kirim dua foto sih, yang satu rame-rame eh ternyata yang kepilih yang ini. hihihihi.

    Selain ada foto narsis saya, di Tabloid Liburan ini juga ada artikel kuliner dari teman saya, Hafida Meutia, dan artikel jalan-jalan ke Ho Chi Minh tulisan dari Bli Made Adhi. Dua-duanya teman seangkatan saya di Travel Writing Class. Selain itu juga ada foto ciamik dari Herman Suparman, temen saya di Travel Writing Camp. Keren kann….

    Yukk beli tabloidnya…..hihihihi 🙂


  • Restoran Medan Baru
    Jalan Krekot Bundar Raya 65 – Jakarta Pusat

    Saya terkadang suka heran dengan sajian masakan kepala ikan. Apa enaknya? rasanya biasa saja dan dagingnya kepala ikan kan sedikit. Makanya saya tidak pernah memesan kepala ikan dan hanya menjadi penonton dikala teman saya memesan menu ini. Pun ketika teman saya Hafida Meutia mengajak saya untuk berburu kuliner yang menu andalannya kepala ikan. Tidak terlalu bersemangat gitu loh. Tapi dasarnya memang doyan jalan, saya asik-asik saja ke pergi ke daerah Kota untuk mencicipi Gulai Kepala Ikan Kakap di Restoran Medan Baru.

    Restoran Medan Baru yang terletak di Jalan Krekot Bundar Raya No. 65 Jakarta Pusat ini merupakan restoran yang sudah berdiri sejak tahun 80an. Restoran yang menyajikan masakan Aceh ini terhimpit dengan pertokoan lain dari depan terlihat biasa saja. Tetapi dari pengunjung yang keluar masuk restoran ini tanpa henti mungkin bisa menjadi pertanda ada masakan istimewa disini. Kalau kita masuk ke dalam, pertama kali kita akan disambut oleh display makanan mirip di Restoran Padang. Bagian dalamnya cukup luas, mungkin bisa menampung hingga seratus pengunjung. Setelah kita mendapatkan meja, maka pelayan akan langsung bertanya “mau pesan gulai ikan?”, “mau pesan ayam goreng atau burung?” tanpa menyodorkan menu. Akhirnya Saya, Fida, Irev, Sisi dan seorang teman Fida lainnya memesan Gulai Kepala Ikan sedang, Burung Punai Goreng, Sambal  Asam Ganja dan minum. Ternyata tak lama kemudian pelayannya membawa banyak makanan ke meja kami, persis sama seperti di Restoran Padang. Pantes aja nggak dikasih menu ya.

    Kayaknya cara pandang saya terhadap masakan Gulai Kepala Ikan berubah di Restoran Medan Baru ini. Gulai Kepala Ikan Kakap di Restoran Medan Baru ini enakkk banget. Daging ikannya empuk dan bumbunya meresap. Saya dan keempat teman saya itu rela mengais-ngais daging di sela-sela tulang kepala ikan. Teman saya Irev bahkan sampai mengambil tulangnya loh. Kuahnya juga muanttapp. Santannya kental banget dan bumbunya juga sedap. Bahkan kami berlima setuju kalau makan nasi putih sama kuah santannya saja juga sudah enak. Untuk Kepala Ikan yang sedang dihargai 69 ribu rupiah saja.

    Selain Gulai Kepala Ikan Kakap, kalau berkunjung ke Restoran Medan Baru ini kamu juga harus mencoba Burung Punai Goreng. Beda dengan burung goreng yang pernah saya makan, Burung Punai yang sejenis Burung Merpati ini dagingnya sangat empuk dan bumbunya meresap…hmmm…mirip daging ayam kali yah. Harga satu ekor Burung Punai goreng disini adalah 18 ribu rupiah.
    Ada satu lagi andalan dari Restoran Medan Baru, yaitu Sambal Asam Ganja. Jangan takut dulu, sambal ini tidak terbuat dari ganja, hanya campuran udang, cabe, Daun Jeruk dan Belimbing Wuluh untuk rasa asamnya. Kalau menurut saya sih rasanya aneh. hihihihihi 🙂
    Oh iya, menurut rekomendasi dari teman saya Wasistyo Adi, untuk minuman, Es Timunnya enak dan segar.

    Secara keseluruhan makanan di Restoran Medan Baru ini tidak mengecewakan dan patut dicoba. Cuma sayangnya porsi nasi putihnya dikit banget. Cuma setengah dari porsi nasi di Warung Padang. Tapi kalau kita memesan teh tawar dapet refill gratis 🙂
    Selain di Jalan Krekot, Restoran Medan Baru juga membuka cabang di Sunter dan akan membuka cabang baru lagi di Puri Indah.

  • Lagi gak ada ide buat nulis blog, bermain-mainlah saya mengunjungi blog lama saya dan membaca seluruh postingannya. Jadi inget waktu pertama kali jalan-jalan ngegembel di tahun 2004 bersama beberapa teman. Jadi terharu. Betapa kita harus menikmati setiap perjalanan karena pasti takkan pernah terulang. Walaupun bisa mengulang suatu destinasi, belum tentu mendapatkan “rasa” yang sama. Nikmati dan resapi setiap perjalananmu, dan kenangannya akan abadi bertahun-tahun.


    PULAU UNTUNG JAWA

    Perjalanan ke Pulau Untung Jawa ini adalah perjalanan ala backpackers pertama gua. Idenya berasal dari hasil pembicaraan di milis dengan teman-teman kuliah gua di Komunikasi Massa UI. Kenapa di pilih ke Pulau Untung Jawa?, karena pulau ini adalah pulau yang paling dekat dengan Jakarta. Setelah didiskusikan lewat milis rute perjalanan yang akan ditempuh dan juga transportasi, akhirnya gua, Ade, Titis, Afgi, Sammy, Suko, Kodrat dan Andi memutuskan berangkat ke Pulau Untung Jawa pada tanggal 19 – 20 Juni 2004.Kami menginap di kos-kosan teman yang tersebar di Kober, Margonda, Depok sehingga keesokan harinya kami dapat pergi di pagi hari secara berbarengan.
    Kami berangkat dari Depok jam 5 pagi dengan menaiki bis AC jurusan Depok – Kalideres dan turun di terminal Kalideres. Kami langsung menyambung dengan angkot ke Pintu Air dan dilanjutkan dengan naik angkot lagi ke tempat penyeberangan Tanjung Pasir. Dari Tanjung Pasir kami naik ojek perahu sampai ke Pulau Untung Jawa.
    Kami tiba di Pulau Untung Jawa jam 10 pagi. Setelah puas berfoto-foto di depan Pulau Untung Jawa, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pulau. Tidak banyak juga yang bisa dilihat. Di dekat dermaga banyak penjual makanan dan juga penjual ikan, yang berjajar rapi di jalan setapak. Rumah-rumah penduduk, layaknya perkampungan nelayan, berjajar rapi di kanan kiri jalan setapak yang mengelilingi Pulau Untung Jawa.
    Tepat pukul 12 siang, kami sudah selesai mengelilingi pulau dan mencari makan siang. Demi menghemat uang, kami makan siang dengan menu nasi goreng dan gado-gado. Pikir kami, nanti malam baru kami akan makan ikan bakar yang enak itu. Sehabis makan siang, kami mencari penginapan. Akhirnya kami menemukan mess Departemen Kehutanan yang dapat disewa seharga 80 ribu semalam. Kami menyewa satu kamar lengkap dengan toilet di dalam. Memang sih mess ini kecil dan seadanya, tapi cukuplah untuk tidur semalam saja, lagipula mess ini menghadap ke laut. Setelah meletakkan tas masing-masing, akhirnya kami berganti baju dan langsung mencari pantai yang bagus untuk sekedar berenang atau bermain-main pasir. Ternyata pantai di Pulau Untung Jawa kurang bagus untuk dibuat berenang. Pantainya karang dan banyak sampah yang berserakan di sekitar pantai. Tapi di dekat dermaga keadaan pantainya lumayan sehingga kami memutuskan untuk menjadikannya tempat berenang kami.
    Kami menghabiskan sore itu untuk berenang-renang saja di pantai. Setelah puas berenang kami mandi. Malamnya kami memesan ikan bakar yang lezat. Kami makan ikan bakar di depan mess sambil mendengarkan suara ombak di laut dan bercerita membahas berbagai macam hal. Ternyata, salah satu tantangan terberat pada perjalanan kami kali ini adalah sewaktu tidur malam harinya. Dilema, jika kami tidur dengan menutup pintu mess maka kegerahan akan menyergap kami sehingga dalam beberapa menit keringat sudah bercucuran. Tetapi jika kami membuka pintu mess, udara malam akan terasa sepoi-sepoi, tetapi nyamuk yang ganas akan segera menyerbu kami. Sungguh sebuah pengalaman tidur yang sangat tidak mengenakkan. Sempat terlintas di benak saya, betapa enaknya tidur di kasur kamar tidur saya di rumah.
    Pagi harinya, setelah makan pagi, kami menyewa perahu untuk menyeberang ke Pusat Konservasi alam Pulau Rambut. Selama perjalanan menyeberang pulau, kami diceritakan bahwa di Pulau Rambut ini adalah tempat konservasi alam, tempat hidup berbagai jenis burung, biawak dan juga ular cincin mas. Rasa ragu untuk kesana sempat terlintas, apalagi setelh mendekati pulau yang selintas tampak seperti hutan belantara. Tapi akhirnya kami memberanikan diri untuk masuk ke pulau setelah sebelumnya meminta izin kepada para penjaga. Ada hal lucu. Pada waktu kami baru menapaki jalan setapak memasuki pulau, ada tulisan “awas ular berbisa” sehingga kami menjadi ketakutan setengah mati. Akhirnya saya dan Ade berbalik kembali menuju pos penjagaan untuk minta ditemani oleh penjaga pulau. Sekembalinya kami ke tempat semula, ternyata teman-teman kami yang lain sudah membentuk satu barisan dan berjalan pelan-pelan memasuki hutan.
    Pusat Konservasi pulau rambut ini adalah benar-benar hutan dalam arti sebenarnya. Hewan-hewan yang ada di Pulau Rambut ini tidak dikerangkeng seperti di kebun binatang. Mereka bebas lepas. Kami beberapa kali melihat biawak yang berjalan-jalan, dan kami tetap waspada, siapa tahu kami bertemu dengan ular cincin mas yang tersohor itu (^_^).Di tengah pulau, ada sebuah menara pengamatan burung. Secara bergantian kami menaikin menara tersebut. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa. Dari menara ini kami bisa melihat seluruh Pulau Rambut yang nampak hijau dan bisa melihat berbagai jenis burung terbang di keseluruhan pulau. Setelah puas berfoto-foto diatas menara, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi Pulau Rambut sambil tak lupa foto-foto juga tentunya.
    Menjelang siang kami kembali ke Pulau Untung Jawa. Kami melanjutkan berenang di tempat kemarin hingga saatnya makan siang. Setelah mandi dan membersihkan diri, kami bersiap-siap untuk pulang. Setelah menyelesaikan pembayaran mess dan perahu, kami makan siang di warung sambil menunggu jemputan perahu motor. Tepat pukul 2 siang jemputan perahu kami datang dan kami pulang kembali ke Tanjung Pasir. Rute kepulangan kami berbeda dengan keberangkatan. Dari Tanjung Pasir, kami turun di belakang Bandara Udara Soekarno Hatta dan naik ojek sampai ke Terminal E. Sambil berfoto sebentar di plang keberangkatan luar negeri, akhirnya kami berpisah di Bandara Soekarno Hatta dengan menaikin bus Damri sesuai arah tujuan masing-masing.
    Benar-benar sebuah perjalanan yang mengasyikan, perjalanan yang murah meriah. Kami hanya menghabiskan uang 80.000/orang selama perjalanan kami ini. Gua rasa, perjalanan ini adalah awal dari perjalanan gua selanjutnya :D.
  • Saya melakukan perjalanan ke Indonesia Timur pada pertamakalinya adalah ke Kota Balikpapan, pada Bulan Juni 2008. Saya ditugaskan kantor selama 2 hari di Balikpapan. Karena pulang ke Jakarta menggunakan pesawat malam dan baru ketemu orang kantor pada siang hari, pagi harinya saya sempatkan jalan-jalan sendiri naik angkot ke Pantai Melawai. Pantai Melawai adalah salah satu pantai di Balikpapan yang berada di pusat kota, di pinggir jalan utama. Pantai Melawai juga berdekatan dengan Pelabuhan Semayang yang merupakan pintu masuk pengunjung dari kota Pare-pare, Makasar dan juga Surabaya.

    Di pagi hari, Pantai Melawai masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang memancing dengan latar belakang beberapa perahu nelayan yang melaut. Kata teman kantor saya, Pantai Melawai adalah spot terbaik untuk mengabadikan matahari tenggelam dan tempat rekreasi penduduk setempat.

  • Pertapaan Karmel ST Yoseph terletak di Jalan Bukit Karmel No. 1 Banturung, Tangkiling, sekitar 38 km dari Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tempat yang berada di wiayah perbukitan dengan suasana hening dan syahdu ini merupakan tempat berziarah dan berdoa bagi umat Katolik.

  • Hari pertama masuk kantor sehabis liburan Lebaran berarti satu hal : banyak oleh-oleh khas daerah yang dibawa teman-teman saya yang pulang kampung. Ada satu oleh-oleh unik yang dibawa teman saya, Wasistyo Adi, yang baru pulang dari Jember, Jawa Timur. Namanya Buah Kenitu. Sepintas, buah yang berwarna hijau kecoklatan ini mirip seperti jambu biji, namun lebih lonjong dan berkulit lunak. Setelah dibuka, dagingnya buahnya mirip sawo namun berwarna putih. Jika dimakan, rasanya manis walaupun tidak semanis sawo biasa. Buah ini sedikit bergetah sehingga terasa lengket di bibir jika Kamu memakannya dengan cara digigit langsung. Tapi rasa lengketnya cepat hilang kok. Karena baru pertama makan (bahkan melihat) Buah Kenitu, saya yang penasaran langsung mencari info tentang buah yang tidak pernah saya jumpai di Jakarta ini.
    Buah Kenitu ternyata bernama lain Sawo Duren yang termasuk dalam suku sawo-sawoan (Sapotaceae) dan mempunyai nama ilmiah Chrysophyllum Cainito. Buah Kenitu banyak dijumpai di daerah Jember, Lumajang, Situbondo dan Bondowoso di Jawa Timur. Teman saya membeli Buah kenitu di sepanjang jalan di Lumajang, Jawa Timur. Kayaknya buah yang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat ini memang lebih banyak ditemui di daerah-daerah tersebut. Tapi teman saya yang lain mengaku pernah melihat Pohon Kenitu di daerah Pondok Indah, Jakarta.

    Kenapa yah buah yang panennya setiap musim kemarau ini kurang populer jika dibanding buah Sawo biasa?. Padahal Buah Kenitu banyak manfaatnya, loh. Selain berguna untuk pengobatan Diabetes, Buah Kenitu juga berkhasiat untuk penyakit yang terkait dengan radikal bebas karena mengandung antioksidan alami.

    Setelah mencoba dua Buah Kenitu, saya langsung menyatakan Buah Kenitu sebagai salah satu buah favorit saya. Nah, buat kamu yang kebetulan pergi ke daerah Jember dan sekitarnya, saya titip Buah Kenitu ya 🙂

  • Salah satu daya tarik Pulau Tidung, salah satu pulau di Kepulauan Seribu, adalah pemandangan matahari terbit dan terbenamnya yang sama-sama cantik. Foto ini juga merupakan salah satu ilustrasi di artikel saya tentang Pulau Tidung yang pernah dimuat di Majalah CHIC.

  • Tadi malam, sewaktu melihat-lihat lagi folder foto perjalanan ke Surabaya di tahun 2006, saya menemukan foto Kya-Kya. Saya masih ingat berkunjung kesini malam-malam dan terpukau olehnya. Bayangkan saja, satu jalan besar penuh dengan pedagang berbagai macam makanan dari makanan Surabaya hingga Chineese Food. Meja dan kursi plastik berderet rapi memenuhi badan jalan. Beberapa penjual souvenir seperti gantungan kunci, poster, hingga hiasan yang biasa dipakai jika acara Imlek menjadi penghias di sela-selanya. Stand khusus untuk meramal menyempil diantara pedagang aksesoris.Pokoknya rame. Saya juga masih ingat memesan mie goreng seafood dan es teh manis sambil memandangi orang-orang hilir mudik mencari makanan untuk dipesan.Langit malam Kya Kya memerah diterangi lampu jalan. Di beberapa tempat tergantung lampion-lampion merah khas dekorasi China. Banyaknya pengunjung etnis China yang berseliweran membuat saya serasa bukan di Surabaya saja. Begitu terkesannya saya dengan Kya Kya, hingga saya bisa kembali merasakan suasana waktu itu hanya dengan melihat fotonya saja.

    Kya Kya yang berarti jalan-jalan merupakan tempat wisata malam di jalan Kembang Jepun, di kawasan Pecinan Surabaya. Di pagi hingga sore hari, kawasan Kembang Jepun dipergunakan sebagai sentra pertokoan. Kya Kya lahir hasil dari ide untuk menghidupkan kembali ikon Surabaya. Dibuat dengan perencanaan matang bahkan sampai studi banding di Chinatown Singapura. Akhirnya Kya Kya dibuka pada tanggal 31 Mei 2003 di jalan seluas 750 meter. Diramaikan oleh sekitar seratusan pedagang makanan dan beberapa acara, Kya Kya benar-benar menjadi wisata malam hari Kota Surabaya. Sayang, ternyata Kya Kya sudah meredup. Dari hasil bertanya ke beberapa orang yang tinggal di Surabaya, katanya Kya Kya sudah tidak ada lagi. Entah mengapa Kya kya “punah”, tapi mungkin beberapa alasan penyebabnya bisa disimak di web ini.

    Ah, sayang, padahal Kya Kya jika benar-benar dirawat dan dikembangkan dengan baik mungkin bisa setara dengan kawasan Chinatown di Singapura. Untuk yang belum pernah ke Kya Kya dan juga untuk mengenang Kya Kya, saya persembahkan foto-foto ini.

  • The Jakarta Explorer
    (Cultural Tours In And Around The City)
    Indonesia Heritage Society
    Third edition 2001

    Jangan pernah meremehkan toko buku bekas. Buktinya saya menemukan “harta karun” di pedagang buku bekas Blok M Square. Buku The Jakarta Explorer yang berbahasa Inggris ini berisi daftar tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Jakarta. Sebuah buku panduan yang sempurna kalau saya ingin menjelajah Jakarta. Kebanyakan dari tempat-tempat yang ada di buku ini adalah tempat-tempat bersejarah dan museum selain tempat-tempat unik lainnya seperti tempat ibadah, pasar, patung, bahkan makam. Ada juga Rumah Tua Cina dan Toko Obat Tradisional Cina. Semua tempat yang ditulis di buku ini dilengkapi dengan keterangan jam buka, biaya, fasilitas hingga ke dress code bila berkunjung kesana. Beberapa tempat di dalam Buku The Jakarta Explorer dilengkapi dengan foto hitam putih. Namun, di tengah-tengah buku ada 16 halaman foto-foto berwarna hasil jepretan fotografer asing yang namanya tertera di bagian belakang buku.

    Nampaknya buku ini diperuntukan bagi para turis asing yang berkunjung ke Jakarta. Selain Jakarta, Buku The Jakarta Explorer juga menulis tentang tempat-tempat menarik di Bogor, Depok, Puncak, hingga ke Jatiluhur. Saya belum pernah melihat buku ini dijual di Toko Buku Gramedia ataupun Gunung Agung. Namun, dari hasil searching disini, buku The Jakarta Explorer dijual di bazaar komunitas expatriat ataupun di gift shop Heritage Society.

  • Balai Pemuda Surabaya
    Jl. Gubernur Suryo No. 15, Surabaya Timur/Genteng
    (Berada pada persimpangan antara jalan Gubernur Suryo-Yos Sudarso-Pemuda)
    Buka : 07.00-22.00 WIB

    Secara tak sengaja saya melewati dan memotret bangunan Balai Pemuda Surabaya ini, sewaktu perjalanan saya ke Surabaya di tahun 2006 lalu. Bentuk bangunannya memang berbeda dari yang lain. Setelah iseng-iseng saya googling di internet, ternyata bangunan ini adalah bangunan bersejarah, lho. Yuk, simak sejarah Balai Pemuda Surabaya yang saya temukan di wikipedia.

    Balai Pemuda Surabaya dulunya bernama De Simpangsche Societeit dan dibangun pada tahun 1907. Bangunan ini milik perkumpulan orang-orang Belanda bernama  De Simpangsche Societeit dan dijadikan pusat tempat rekreasi untuk pesta dansa. Pada tahun 1945, gedung ini sempat dikuasai oleh Arek-Arek Suroboyo yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan dijadikan Markas Pemuda. Namun, gedung ini kemudian dikuasai kembali oleh Belanda melalui pertempuran yang sengit. Pada tahun 1950, setelah Indonesia merdeka, gedung dikuasai oleh penguasa militer Jawa Timur. Pada tahun 1957, pada masa pembebasan Irian Barat, gedung dan seluruh inventarisnya oleh Penguasa Militer Propinsi Jawa Timur di serah terimakan kepada Ketua Dewan Pemerintah Daerah Kota Praja Surabaya. Gedung akhirnya berganti nama menjadi Balai Pemuda Surabaya pada tahun 1957 dan digunakan untuk menampung kegiatan pemuda, termasuk menjadi markas KAMI dan KAPPI dalam menumpas G 30 S/PKI.

    Tahun 1979 Balai Pemuda mengalami pemugaran namun tidak merubah bentuk aslinya dan hingga sekarang dijadikan pusat pagelaran kesenian di Surabaya.