[Wisata Rammang-Rammang 1] Menyusuri Pegunungan Karst Rammang-Rammang

rammang-rammang-1

Tahukah kamu apa itu Karst? Tahukah kamu kalau kawasan Karst terbesar ketiga di dunia ada di Indonesia? Engga tahu? Sama. Saya juga baru tahu ketika saya mengunjungi Rammang-Rammang, Kawasan Wisata Karst di Maros, Makassar.

Berawal dari “racunnya” sohib saya Bekti Triyono, akhirnya saya mengunjungi Rammang-Rammang. Kali ini teman perjalanan saya adalah Bekti Triyono, Rizki Amaliah, Mitha Fadilla dan Mas Jufri Zigel. Kami berlima start dari Makassar selepas makan siang sehabis menikmati Ulu Juku yang maknyus itu.

rammang-rammang-2

Perjalanan dari Makassar menuju titik pertemuan kami di Dermaga 01 Rammang-Rammang ditempuh selama 2 jam naik mobil. Sampai di Dermaga 01 kami disambut oleh Pak Kimung. Beliau adalah relawan dan pemerhati Rammang-Rammang yang akan mengantarkan kami menjelajah Rammang-Rammang. Ada celotehan lucu dari Pak Kimung ketika kami sedang sibuk memakai lotion sunblock “kalo ke Rammang-Rammang engga cukup pake sunblock, kalian harus pake konblok”. Hahahaha 🙂

Menikmati pegunungan Karst Rammang-Rammang bisa dengan 2 cara. Naik perahu atau dengan trekking. Kami memilih cara yang kedua. Jadilah di siang bolong yang sangat panas itu kami mulai berjalan menyusuri kawasan wisata karst Rammang-Rammang. Asumsi perjalanan akan ditempuh selama 2 jam. Tapi jadinya molor, sih. Bukan, kali ini bukan karena saya kecapekan lagi. Tapi karena Rammang-Rammang memang luar biasa indah dan tak bosan untuk dinikmati.

rammang-rammang-3

Pemberhentian pertama kami adalah di Taman Batu Kampung Laku. Pemandangannya? Ruar biasa! Perpaduan bebatuan Karst, pepohonan hijau dan langit biru menjadikan pemandangannya luar biasa.

Beruntung kami memilih berjalan kaki menyusuri Rammang-Rammang karena kami diajak Pak Kimung ke tempat-tempat yang belum dibuka untuk umum. Yay! Kami diajak menelusuri lorong-lorong karst dan menemukan beberapa spot yang cukup unik untuk difoto. Beberapa kali Pak Kimung menekankan kalau Rammang-Rammang ini harus dijaga dengan baik karena dia tidak mau Rammang-Rammang tidak terawat dan penuh dengan sampah. Makanya beberapa spot belum dibuka untuk umum. Saya sangat setuju dengan Pak Kimung, Sayang sekali jika kawasan karst indah ini harus rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

rammang-rammang-4

Saya baca di Wikipedia bahwa daerah Karst terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan Hidraulik dan pergerakan tektonik. Bener banget nih, karena ketika saya menelusuri lorong-lorong karst ini ada bagian yang di kanan kirinya sama seperti bekas dilalui oleh gelombang air.

Salah spot menarik selain spot rahasia yang kami kunjungi adalah Taman Hutan Batu Alquran. Taman Batu ini memang letaknya di dekat Taman Pendidikan Alquran. Kamu pernah melihat desain kolam ikan kan yang ada tebing-tebingnya itu kan? Nah ini adalah versi raksasanya.

rammang-rammang-5

Selepas dari Taman Batu Alquran kami melanjutkan perjalanan menyusuri Rammang-Rammang. Kali ini kami ingin melihat batu yang berbentuk seperti kura-kura. Disini kami harus bertemu dengan medan yang menantang dan harus melewati celah-celah karst yang sempit. Penuh perjuangan deh.

rammang-rammang-6

rammang-rammang-7

Batu yang dibilang seperti kura-kura ini memang unik. Karena dia akan berbentuk kura-kura jika difoto dari sudut yang tepat. Jika tidak maka batu ini akan berbentuk lain. Saya sempat foto batu ini kok jadi mirip kepala orang dengan hidung Pinokio yah? Hehehehehe.

rammang-rammang-8

Hari sudah semakin sore, saatnya mengejar matahari senja. Pak Kimung mengajak kami naik lagi keatas bukit untuk menikmati sunset. Walaupun akhirnya sunsetnya turun dengan malu-malu tapi pemandangannya tiada tara. Oh iya, disini kami sempat istirahat sebentar di Café Taman batu Rammang-Rammang milik penduduk sekitar sambil menikmati minuman dingin.

Selesai menikmati sunset kami berjalan lagi menuju Dermaga 02 untuk naik perahu ke Kampung Berua. Tapi sebelumnya kami diajak melihat Pohon Natal. Apa itu Pohon Natal? Jadi, di pinggir-pinggir sungai Pute ini banyak kunang-kunang. Kunang-kunang yang memancarkan cahaya di kegelapan ini merubungi pohon sehingga di kegelapan mirip seperti pohon natal. Saya tidak dapat mengabadikan pohon natal dengan kamera saya. Yah, memang ada beberapa hal yang hanya bisa dinikmati sendiri dan tidak dapat dibagi. Haseg! 🙂

rammang-rammang-10

Tiba di Kampung Berua hari sudah malam. Kami mampir sebentar di rumah Daeng Beta, kepala Kampung Berua untuk mandi. Sehabis mandi kami makan malam dan menuju ke rumah yang kami sewa tepat di sebelah rumah Daeng Beta.

Suasana malam di Kampung Berua yang sunyi dan damai mengantarkan saya ke alam tidur dengan membawa kenangan sepanjang perjalanan seharian tadi. Perjalanan kami menyusuri rammang-rammang akan kami lanjutkan esok hari di postingan selanjutnya, yah.

Selamat tidur Kampung Karst….mimpi manis.

Advertisements

6 thoughts on “[Wisata Rammang-Rammang 1] Menyusuri Pegunungan Karst Rammang-Rammang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s