Made Wahyuni

Travel, Food and Everything in Between

  • Jakarta
  • Kepulauan Seribu
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Sumatera
  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Singapura
  • Vietnam
  • Personal
  • Publication
  • Portfolio
  • Contact
  • About

recent posts

  • Glamping di Leuweung Geledegan Ecolodge Bogor
  • Berwisata ke Faunaland dan Segarra Ancol
  • Berkunjung ke Scientia Square Park BSD
  • Da Nang Selayang Pandang
  • Belajar Masak di ABC Cooking Studio

about

  • Twitter
  • Facebook
  • Instagram
  • From Bali With Love

    July 16, 2011

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

    July 5, 2011

     

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Leave No Trash

    June 30, 2011

    “Take nothing but pictures,Β  leave nothing but footprints,Β  kill nothing but time“

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Mencari Malin Kundang di Pantai Air Manis

    June 29, 2011

    Alkisah ada seorang anak yatim bernama Malin Kundang. Karena merasa kasihan ibunya yang banting tulang untuk mencari nafkah, Malin memutuskan untuk pergi meratau menumpang kapal seorang saudagar. Keuletan dan kerja kerasnya membuat Malin Kundang menjadi kaya raya dan akhirnya menikah. Berita tentang Malin Kundang yang kaya raya sampai juga ke ibunda Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa gembira anaknya telah berhasil dan setiap hari pergi ke dermaga untuk menantikan anaknya yang mungkin pulang. Akhirnya saat itu pun tiba, Malin Kundang beserta istri dan anak buahnya kembali ke kampung halamannya. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal di dermaga merasa gembira anaknya telah kembali. Dia pun bergegas menyambut anaknya.

    Namun sayang, Malin Kundang tidak mau mengakui ibunya sendiri karena malu jika diketahui oleh istri dan anak buahnya. Malin Kundang marah ketika ibunya yang berpakaian lusuh dan kotor ingin memeluk dirinya. Ibunda Malin Kundang yang merasa sedih dan kecewa melihat anaknya menjadi durhaka, mengatakan sumpah Jika benar Malin Kundang adalah anaknya, maka dia akan menjadi batu. Tidak lama kemudian Malin Kundang kembali berlayar. Namun badai datang menghancurkan kapal Malin Kundang, dan tubuh Malin kundang perlahan menjadi batu.

    Nah, bagaimana kabar Malin Kundang sekarang?

    Dalam perjalanan saya ke Padang di Bulan Mei lalu, saya mengunjungi sang legenda di Pantai Air Manis bersama rekan kerja saya Pak Basori, Pak Amin dan Alfin. Dari Kota Padang, perjalanan menuju Pantai Air Manis ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam dengan jalan yang berkelok dan menanjak. Pantai Air Manis adalah pantai berpasir kecokelatan yang terletak di daerah Padang Selatan. Batu Malin Kundang itu sendiri adalah sebuah batu berbentuk manusia yang sedang bersujud menghadap ke arah daratan. Disekitarnya juga terdapat batu-batu yang berbentuk tepian kapal. Tidak jauh dari batu ini, ada juga batu yang menyerupai reruntuhan kapal. Inilah kapal yang digunakan Malin Kundang dan istrinya ketika berlayar menuju kampung halamannya. Karena terletak di pinggir pantai, maka kita tidak bisa melihat batu ini jika laut sedang pasang.

    Di pinggir batu Malin Kundang terdapat relief yang menceritakan legenda Malin Kundang dan juga warung-warung yang menjual kelapa muda. Sedap juga menikmati manisnya air kelapa muda sambil menikmati cerita Malin Kundang. Ada beberapa fotografer lokal yang duduk-duduk di sekitar batu Malin Kundang. Menurut informasi dari Pak Basori, biasanya pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto Batu Malin Kundang dengan kamera pribadi, harus melalui jasa fotografer lokal tersebut. Tapi waktu saya kesana, saya bebas-bebas aja kok memotret dengan kamera pribadi πŸ™‚

    Di dekat Batu Malin Kundang terdapat Pulau Pisang Besar dan Pisang Kecil yang biasanya menjadi tempat bersantai bagi pengunjung Pantai Air Manis. Tapi sayangnya karena waktu yang terbatas saya tidak sempat kesana. Hiks 😦

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Happy Belated Birthday, Jakarta!

    June 26, 2011



    Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi…..

    (Koes Plus)

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Salam Manis dari Ubud

    May 28, 2011

    Sebuah perjalanan bisa berarti menikmati sepenggal jalan di Ubud dan membaca pesan dari seluruh dunia.

    Salam manis dari Ubud!

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Pantai Timur Pangandaran

    May 14, 2011

    Kalau kamu berkunjung ke Pangandaran, saya sarankan melakukan aktivitas pagi sebagai berikut :

    1. Bangun pagi-pagi, boleh langsung mandi boleh engga πŸ™‚
    2. Langsung menuju ke Pantai Timur Pangandaran
    3. Cari tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit. Di akhir pekan, hal ini perlu dilakukan karena banyak sekali pengunjung yang memenuhi pantai
    4. Siapkan kamera DSLR, kamera pocket ataupun kamera HPmu untuk mengabadikan sunrise.
    5. Menikmati Sunrise sampai habis
    6. Nah, setelah itu kamu boleh bermain-main air di pantai atau langsung menyewa perahu untuk menuju pasir putih yang terletak di Cagar Alam Pangandaran.

    Happy Weekend all πŸ™‚

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Antara Ojek, Lumpur dan Senja

    April 30, 2011

    Saya selalu berkeyakinan kalau semakin susah sebuah tempat dituju, maka semakin indah tempat tersebut. lagi-lagi keyakinan saya ini terbukti benar dalam trip saya ke Ujung Genteng bersama Nevy, Fida, Irev, Dwi, Ipung dan Happy. menurut informasi dari Pak Mput, penjaga penginapan kami, tempat terbaik untuk melihat sunset adalah di Muara Cipanarikan. Saya sih sempat ragu karena untuk mencapai Muara Cipanarikan kami harus menggunakan ojek, padahal di depan penginapan kok kayaknya bisa kelihatan sunset juga. Tapi akhirnya kami jadi juga naik ojek ke Muara Cipanarikan dengan tarif PP 25 ribu rupiah.

    Naik ojek ke Muara Cipanarikan ternyata tidak sekedar naik ojek biasa, tapi ojek yang offroad!.
    Jalan menuju Muara Cipanarikan becek dan banyak kubangan karena pagi harinya Ujung Genteng diguyur hujan deras. Seru banget deh membonceng ojek yang ajrut-ajrutan sepanjang jalan. Antara seneng dan ngeri saya “menggantungkan hidup saya” kepada Aud sang pengendara motor. Untung tukang ojeknya berpengalaman jadi saya tidak terjatuh di kubangan berwarna coklat yang tampak mengerikan itu. Sekitar 10 menit menembus kubangan, ojek saya berhenti. Saya disuruh melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menembus hutan. Wow, tantangannya belum selesai ternyata.

    Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang becek menembus hutan sekitar 5 menit. di ujung jalan setapak, terlihatlah Pantai Muara Cipanarikan. Pantainya memang benar bagus dan bersih. Tidak banyak juga pegunjung yang datang kesini. Benar-benar sepi seperti pantai pribadi. Namun, sama seperti pantai lain di Ujung Genteng, Pantai Muara Cipanarikan berombak besar sehingga harus berhati-hati jika ingin berenang. Rasanya saya harus berterima kasih pada Pak Mput. Senja di Muara Cipanarikan benar-benar indah. Saya puas dapat mengabadikan matahari terbenam dengan berlatar depan ombak besar berbuih putih. Berikut beberapa fotonya.

    Nb : Muara Cipanarikan lebih bagus dari foto-foto yang dibuat oleh fotografer amatiran ini πŸ˜›

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Artikel Bali Timur di Majalah CHIC

    April 14, 2011

    Saya pengen banget bisa menulis artikel tentang Bali. Selain karena masih banyak sisi Bali yang ‘layak jual’ juga karena beban nama. Lagian asik aja gitu kalo ditanya, “orang Bali udah pernah nulis tentang Bali belom?” trus saya bisa jawab dengan ceria “udah dong!” πŸ™‚

    Tapi Bali termasuk tempat yang udah banyak ditulis dimana-mana. Susah aja gitu kalo mau jual ke majalah. Nah, untungnya nih, kampung saya tercinta terletak di Bali Timur yang lumayan jarang diekspos dibanding tempat-tempat lain. Ya udah deh, saya niatin tuh waktu pulang kampung tahun lalu menjelajah tempat-tempat asik di Bali Timur ditemani sepupu saya yang baik hati, Gede Vidyana. Kita berdua naik motor panas-panasan keliling pantai-pantai dan Tirta Gangga. Saya juga pergi sendirian ke Taman Ujung naik ojek dan nyasar di Pasar Karangasem karena saya engga tau alamat tante saya. Hehehehe. Untunglah saya diselamatkan sepupu saya Oka Budiman. Hahahaha :))

    Akhirnya, setelah menunggu beberapa bulan lamanya dan berputar dari satu majalah ke majalah lain, artikel Bali Timur saya sebanyak 4 halaman dimuat di Majalah CHIC No. 84 Bulan Maret 2011. Ihiyy….

    Ps : Terima kasih spesial buat Gede Vidyana yang udah nganterin keliling-keliling πŸ™‚

     

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
  • Catatan Kecil Penulis Amatir

    Catatan Kecil Penulis Amatir

    April 13, 2011

    “Kok bisa sih artikelnya dimuat di majalah?”

    “Gimana sih tipsnya?”

    Diatas adalah contoh pertanyaan yang beberapa kali ditujukan kepada saya entah melalui email, facebook ataupun secara langsung. Karena saya masih amatiran dan belum layak untuk memberikan tips-tips seputar travel writing, saya hanya akan bercerita tentang proses awal saya menulis artikel travel. Semoga dari tulisan saya bisa didapatkan inspirasi untuk temen-temen.

    Pada awalnya

    Saya suka menulis. Dulu saya mulai dari menulis blog dan juga puisi-puisi picisan. Tidak ada usaha untuk menerbitkannya walaupun keinginan itu selalu ada. Kegiatan jalan-jalan saya juga baru dimulai ketika saya mulai kerja kantoran. Sebabnya jelas, karena baru bisa punya uang sendiri. Hehehehe πŸ™‚ . Dari situ mulai terpikir gimana caranya saya bisa ngetrip gratisan. Mulailah ide tentang travel writing mulai menari-nari di kepala saya. Saya mengumpulkan berbagai informasi di internet tentang Travel Writing di internet, langganan majalah travel, dll.

    Belajar dari Ahlinya

    Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada Bulan Mei 2009, saya mendapatkan informasi dari teman saya Didie, bahwa akan diadakan Travel Writing Class (TWC) yang diadakan oleh Penulis Pengelana. Tanpa berpikir panjang (saya memang jarang berpikir panjang :P) saya langsung mendaftar di menit-menit terakhir pendaftaran ditutup.Β  Travel Writing Class yang saya ikuti terdiri dari materi di kelas dan dua kali trip ke Gunung Halimun dan ke Pulau Tidung, diajarkan langsung oleh Travel Writer ternama yang sekarang menjabat sebagai Editor in Chief Majalah Liburan dan Majalah Escape, Mas Teguh Sudarisman. Di TWC ini saya banyak mendapatkan ilmu tentang travel writing dan tips-tips yang sangat bermanfaat. Di TWC ini juga saya mendapat teman-teman yang seru, menyenangkan dan doyan ngetrip juga. Selepas TWC kami bersahabat hingga sekarang dan masih sering ngetrip ataupun sekedar nongkrong bareng.

    Artikel Pertama

    Trip pertama di TWC adalah mengunjungi Taman Nasional Gunung Halimun. Waktu ikut trip ini, saya diajak mengunjungi tempat-tempat yang seru sekaligus mempraktekkan ilmu yang didapat dari Mas Teguh. Nah, sepulangnya dari Halimun, kami diwajibkan mengumpulkan artikel tentang trip kami di Gunung Halimun. Dasar memang saya pemalas, saya tidak mengumpulkan artikel itu. Untuk menulis artikel memang dibutuhkan niat, sesuatu yang saya belum punya saat itu.

    Singkat cerita, artikel tentang Gunung Halimun karya salah satu peserta TWC, yaitu Bli Made, berhasil dimuat di Majalah Sekar. Nah,Β  saya pun akhirnya menjadi “panas” dan iri hati. Kalau artikel Bli Made bisa dimuat berarti artikel saya juga bisa dong. Kan kita belajarnya bareng. Begitulah, si Uniey berubah menjadi ambisiuswati dalam sekejap πŸ™‚

    Trip TWC kedua adalah mengunjungi Pulau Tidung. Nah, di trip ini saya benar-benar berkonsentrasi penuh dan dengan persiapan yang lebih matang. Pulang dari sana saya langsung membuat draft artikel dan saya sempurnakan tiap hari. Saya juga mulai memilih majalah sasaran saya. Karena saya berlangganan Majalah CHIC, saya mulai mempelajari artikel travel di CHIC seperti gaya penulisannya, dan lain-lain. Saya juga terus bertanya ke Bli Made tentang tips-tips supaya artikel dimuat di majalah. Ketika saya rasa artikel saya sudah siap, saya pun memberanikan diri mengirim artikel Pulau Tidung saya ke Majalah CHIC.

    Sekitar 2 minggu setelah saya mengirimkan artikel, saya mendapat telepon dari redaksi CHIC yang memberi kabar kalau mereka akan memuat artikel saya. Bisa dibayangkan betapa girangnya saya. Puncak kegirangan saya adalah ketika artikel saya terpampang di Majalah CHIC. Wuihh…..saya pamer kemana-mana tuh. Saya bawa Majalahnya di tas hampir sebulan penuh untuk dipamerin. Hehehehe. Ada kepuasan tersendiri buat saya. Ternyata saya bisa kok kalau saya niat dan berusaha keras.

    Berlanjut

    Begitulah, dari artikel pertama saya di Majalah CHIC, berlanjut ke artikel-artikel selanjutnya di majalah lain. Saya punya kebiasaan selalu men-scan artikel saya dan memamerkannya di blog dan Facebook saya. Saya juga selalu woro-woro setiap kali artikel saya dimuat. Bukan bermaksud sombong, tapi saya cuma ingin orang lain tahu karya-karya saya. Ternyata, memang ada gunanya juga. Saya pernah dapet order menulis travel dari teman saya yang tahu bahwa saya bisa menulis artikel travel dan dimuat di majalah. Oh iya, selain memamerkan karya, saya juga mulai memperbanyak link-link saya di media. Berguna banget, saya dapet tawaran menjadi kontributor Tabloid Top Idol dari teman saya Rina Ruslaini yang sudah malang melintang di dunia per-media-an. Saya juga ditawari jadi kontributor Majalah Liburan dari Mas Teguh Sudarisman. Lumayan kan.

    Tentunya perjalanan saya tidak selalu mulus. Artikel saya yang dimuat tidak ada setengahnya dari artikel yang saya kirim. Lebih sedikit lagi malah. Banyak artikel saya yang ditolak redaksi bahkan ada yang tanpa kabar sama sekali. Ada majalah yang mau tulisan saya tapi engga suka foto saya karena jelek. Β Ada juga yang minta saya edit tulisannya, eh pas saya kirim lagi engga ada kabar sampe sekarang. Pokoknya macem-macem deh. Belum lagi perjuangan saya menulis. Kadang saya pulang dari ngetrip Hari Minggu tengah malam. Capek ngetrip pengennya langsung tidur. Tapi saya harus bikin draft artikel dulu supaya engga lupa karena besoknya saya harus kerja. Kalau disuruh ngedit artikel oleh editor ya harus siap-siap deh begadang. Β Tapi ya karena saya suka ya saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Semuanya terbayar kok.

    Jadi, buat temen-temen yang mau mulai menulis artikel travel, tetap semangat yah. Ditolak gak papa, setidaknya redaksi pernah membaca tulisan kita dan siapa tau selanjutnya bisa lebih baik. Urusan honor belakangan dan jangan terlalu dipikirin. Namanya juga baru merintis. Kalau kita sudah punya nama juga honor mengikuti kok πŸ™‚

    Kalau temen-temen ada yang mau tanya-tanya boleh kok. Kalau saya bisa pasti kok saya bantuin.

    Okey, sekian dari saya, Selamat menulis ya… πŸ™‚

    *Foto : Teguh Sudarisman

    *Miss You all TWCers πŸ™‚

    Share this:

    • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
    • Click to share on X (Opens in new window) X
    • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
    • Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
    • Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
    • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
    Like Loading…
Previous Page Next Page

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • Made Wahyuni
      • Join 73 other subscribers
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • Made Wahyuni
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Report this content
      • View site in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar
    %d