• Senja di Samalona

    Pulau Samalona 1

    Pulau Samalona terkenal dengan pantai pasir putihnya yang cantik dan keindahan bawah lautnya yang memesona. Ada satu lagi keindahan yang bisa didapat di Pulau Samalona yaitu Senjanya.

    Dalam perjalanan ke Makassar beberapa waktu lalu, Saya dan Mitha Fadilla mengunjungi Pulau Samalona. Kami diantar oleh karib saya Bekti Triyono dan juga Mas Jupe, teman kantornya Bekti. Kami berempat start dari dermaga sekitar jam 2 siang. Agak kurang normal sih buat waktu kunjungan ke pulau. Kalau pengunjung normal dari pagi sudah nyebrang ke Pulau Samalona. Kata Bekti sih “kita kan mau nyari sunset, jadi jalannya sorean aja”. Okesip 😛

    Untuk menuju Pulau Samalona kami naik kapal selama kurang lebih 25 menit. Beruntung cuaca sedang bersahabat. Air lautnya tenang dan langit cerah sehingga perjalanan kami lancar jaya. Dalam perjalanan kami juga melewati beberapa kapal besar yang sedang lepas jangkar di sekitar Pelabuhan Makassar.

    Pulau Samalona 2

    Tiba di Pulau Samalona kami disambut dengan pasir putihnya yang cantik. Air lautnya juga bening deh. Rasanya pengen langsung nyebur aja. Pulau Samalona ini tidak terlalu luas. Yah sekitaran dua hektaran lah ya. Tidak makan waktu lama untuk mengelilingi Pulau Samalona ini. Sewaktu menyusuri Pulau Samalona kami sempat diajak oleh penduduk setempat untuk melihat karang hidup di pinggir pantai. Pulau Samalona ini memang keren abis. Walaupun letaknya relatif dekat dengan pelabuhan paling sibuk di Makassar, air laut di Pulau Samalona bening dan bersih.

    Saya langsung membandingkan Pulau Samalona dengan pulau yang terdekat dari Jakarta. Kalau dikira-kira, jarak dari dermaga penyeberangan ke Pulau Samalona mungkin sama dengan jarak dari Muara Kamal ke Pulau Kelor. Tapi bedanya jauh banget. Di Pulau Kelor air lautnya kotor dan keruh. Boro-boro deh ada karang hidup.

    Pulau Samalona 3

    Pulau Samalona ini memang sangat nyaman untuk dikunjungi. Pulaunya tenang dan pengunjungnya juga tidak terlalu banyak. Di pinggir pantai sudah tersedia beberapa pondokan untuk bersantai. Kami duduk-duduk santai minum air kelapa muda sambil memandang ke laut biru. Bosan duduk-duduk kami foto-foto. Kalau kamu berkunjung ke Pulau Samalona jangan lupa sedia memory card kamera yang banyak dan batere yang full karena kamu pasti bakalan foto-foto terus. Engga bosen foto-foto disini karena sangat fotogenik. Jadinya kayak foto-foto di kalender or di Majalah wisata gitu deh 🙂

    Tepat pukul 17.30 kami mulai beranjak menuju spot untuk menikmati matahari tenggelam. Kami menyaksikan matahari yang bulat sempurna itu pelan-pelan turun dan akhirnya menghilang di ujung samudera menyisakan sedikit lintasan jingga di langitnya. Kami menunggu sampai matahari benar-benar menghilang baru bergegas kembali ke perahu yang akan mengantar kami kembali ke Makassar.

    Pulau Samalona 4

    Pulau Samalona 5

    Kunjungan kami ke Pulau Samalona memang sangat singkat tapi memberikan pengalaman yang luar biasa. Pulau Samalona langsung masuk dalam daftar tempat yang harus kembali saya kunjungi. Mungkin dibarengi dengan kunjungan ke Pulau Kodingareng Keke yang kabarnya tak kalah cantik. Ada yang mau ikut? 🙂

  • [Geopark Ciletuh] Dari Pantai Palangpang ke Curug Awang

    Pantai Palangpang 1

    Setelah kemarin seharian menjelajahi Tebing Panenjoan, Curug Sodong dan Curug Cikanteh serta Puncak Darma, di hari kedua tersisa 2 destinasi yang akan kami kunjungi yaitu Pantai Palangpang dan Curug Awang. Sebenarnya sih masih banyak spot di kawasan Geopark Ciletuh tapi berhubung kami adalah mbak mbak dan mas mas kantoran yang harus masuk kerja lagi di Hari Senin maka harus menghemat waktu agar sampai di Jakarta tidak terlalu malam.

    Oh iya, selama di Ciletuh kami menginap di rumah penduduk. Kamarnya bersih dan makanannya lumayan enak. Selama di kawasan Geopark Ciletuh menu makanannya adalah ikan, sayur dan sambal. Eh kecuali sarapan ding. Menu sarapannya adalah nasi goreng dan teh manis hangat.

    Pantai Palangpang 5

    Sekitar jam 8 pagi kami berangkat ke Pantai Palangpang. Akhirnya kami bisa mengunjungi pantai yang dari kemarin hanya bisa dilihat dari kejauhan ini. Pantai Palangpang memiliki garis pantai yang lumayan panjang dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Nah, di dekat Pantai Palangpang ini ada pulau yang bisa dikunjungi namanya Pulau Kunti. Kalau mau kesana kamu tinggal sewa perahu nelayan saja.

    Pantai Palangpang 4

    Saya dan teman-teman tidak lama di Pantai Palangpang. Setelah semua gaya foto habis dicoba dan matahari mulai terik, kami kemudian bergerak menuju Curug Awang. Perjalanan dari Pantai Palangpang ke Curug Awang kurang lebih sekitar 1 jam, setelah itu lanjut trekking sedikit selama 10 menitan melewati sawah penduduk. Sayang sudah lewat masa panen. Coba kalau enggak, persawahan penduduk ini mungkin akan mirip Tegalalang di Bali. Sebenarnya jalur aslinya ke Curug Awang ini turunannya agak horor. Tapi kami diajak Mas Irwind melalui jalur alternatif melewati pematang sawah.

    Curug Awang 1

    Curug Awang adalah air terjun yang berlokasi di desa Taman Jaya kecamatan Ciemas. Di musim hujan aliran air dari Curug Awang cukup deras dan melebar sehingga sering dijuluki Niagara mini. Waktu kemarin kami ke Curug Awang sedang musim kemarau jadi aliran airnya tidak begitu lebar. Dinding-dinding coklatnya sangat menyolok. Airnya juga coklat jadi tidak disarankan kalau mau berenang disini. Kalau buat foto-foto okelah.

    Curug Awang 2

    Pulang dari Curug Awang kami mampir rehat sejenak di warung-warung warga minum es kelapa muda dan makan pisang goreng sambil menikmati view persawahan penduduk.

    Cerita tentang Pantai Palangpang dan Curug Awang ini sekaligus mengakhir postingan berseri saya tentang Geopark Ciletuh. Saya sangat merekomendasikan Geopark Ciletuh untuk kamu kunjungi.

    Curug Awang 3

    Oh iya, buat kamu yang pengen mengunjungi kawasan Geopark Ciletuh dan enggak mau repot, saya sarankan kamu menghubungi Kang Irwind di nomer Hp : 0857 2454 8187. Orangnya super baik deh. Dia akan membantu mengatur semua perjalanan kamu selama di Geopark Ciletuh. Siapa tahu kamu nanti kayak saya, dapet bonus oleh-oleh beras hitam asli Ciletuh 🙂

  • [Geopark Ciletuh] Perjuangan ke Puncak Darma

    Puncak Darma Ciletuh 1

    Tidak ada orang yang masih bisa berpikiran waras setelah turun dari Puncak Darma”. Itu kesimpulan saya setelah melalui perjuangan berat trekking naik dan turun dari Puncak Darma. Jadi, setelah menyambangi Curug Sodong dan Curug Cikanteh, saya, Nevy Elysa, Wasistyo Adi, Tieky Kristian, Wahyu Basuki dan Suryo melanjutkan perjalanan melihat sunset di Puncak Darma. Sebenarnya nih, abis turun dari Curug Cikanteh saya sudah ngos-ngosan dan capek. Tapi karena diiming-imingi sunset di Puncak Darma yang katanya ciamik berat saya langsung semangat.

    Dari Curug Sodong kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil selama setengah jam menuju titik awal trekking menuju Puncak Darma. Kami sempat rehat sedikit sambil minum es kelapa muda sebelum mulai trekking sepanjang 2 kilometer. Menurut Kang Irwin, kita akan melalui satu jam trekking menuju Puncak Darma. Tapi buat orang yang jarang tidak pernah olahraga seperti saya ini ya molor lah trekkingnya.

    Puncak Darma Ciletuh 3

    Jalur trekking menuju Puncak Darma bisa dibilang lumayan. Jalanannya lumayan lebar, jaraknya lumayan jauh dan tanjakannya lumayan cihuy. Diantara kami berenam, saya berada di urutan paling terakhir jalannya. Bagi saya trek ini lumayan berat. Sepanjang jalan saya menyesali tabiat saya yang jarang berolahraga. Hahaha 🙂

    Beberapa kali saya duduk ngaso untuk mengatur napas ditemani Nevy. Si Nevy ini memang travel buddy andalan. Padahal kalau dia mau dengan badannya yang mungil dan sering olahraga lari itu pasti dia bisa sampai di Puncak Darma dengan cepat. Tapi bener deh, kayaknya baru disini saya hampir putus asa dan ingin menyudahi saja trekking ini. Sebodo deh sunset, gue capek. Saya kayaknya harus berterima kasih sama Nevy. Dia terus menyemangati saya dengan selalu bilang “ayo buruan, di depan jalanannya landai!”. Landai dari Hongkong 😛

    Jalanan menuju Puncak Darma tidak bisa dilalui oleh mobil, kecuali mobil offroad gitu. Ya bisa sih kalau mau nekat. Tapi resikonya tanggung sendiri ya. Soalnya nih, dalam perjalanan saya melihat mobil box kecil nyangkut tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tapi kalau motor kayaknya masih bisa. Soalnya saya melihat ada beberapa motor yang lewat.

    Puncak Darma Ciletuh 4

    Ada cerita nih. Jadi waktu saya dan Nevy jalan, ada mobil offroad mendekat. Saking capeknya mungkin baru waktu itu saya punya pikiran nekat. “pokoknya kalo diajak bareng naik mobil itu gue mau aja, enggak peduli kenal apa enggak”. Langsung kami berdua memasang muka memelas semanis mungkin ke arah mobil offroad itu. Dan akhirnya, mobil offroad itu melenggang santai melewati saya dan Nevy. Si supirnya cuma bunyiin klakson saja tanpa melihat raut muka berharap dari dua cewek manis ini. Nawarin pun engga. Mungkin si supir takut kalo ngajak saya nanti sayanya engga mau turun ya.

    Akhirnya dengan tekad yang dibesar-besarkan, dengan baju dan rambut yang kuyup kena keringat, saya melanjutkan perjalanan. Berkali-kali saya melihat matahari. Mengecek apakah sudah turun atau belum. Ternyata belum. Aman. Saya melanjutkan perjalanan.

    Di setengah perjalanan saya melihat seorang bapak sedang duduk di pinggir jalan dengan motor di sampingnya. Harapan saya kembali hidup “Oke, ini pasti tukang ojek. Gue bayar berapapun mahalnya ini ojek”. Saya mendekat, senyum-senyum ke bapaknya dan duduk istirahat di samping bapaknya. Ngobrol punya ngobrol ternyata si bapak lagi istirahat karena mau melanjutkan perjalanan. Motornya rusak sehingga dia harus menuntun motornya turun. Oke, harapan kembali meredup. Saya melanjutkan perjalanan.

    Puncak Darma Ciletuh 5

    Saya jalan kembali selama 20 menit hingga akhirnya sampai di Puncak Darma. Total saya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam lebih untuk mencapai Puncak Darma. Sampai di Puncak Darma matahari sudah mulai tenggelam. Saya langsung bergabung dengan teman-teman yang lain dan mengabadikan sunset di Puncak Darma. Saya agak kesorean sampai di Puncak Darma sehingga tidak puas menjelajah seluruh sudut Puncak Darma.

    Puncak Darma memang keren. Dari sini kita bisa melihat hingga ke Pantai Palangpang yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Sunsetnya jangan ditanya. Magis.

    Puncak Darma Ciletuh 2

    Kami turun dari Puncak Darma ketika matahari sudah benar-benar habis. Jadilah kita gelap-gelapan turun dengan bantuan lampu senter. Trekking turun lebih mudah sih, jadinya perjalanan lebih cepat. Hasil dari perjalanan ini saya mendapat insight yang berharga. Kita bisa mencapai sesuatu asal tidak berhenti, sesulit apapun itu.

    Puncak Darma merupakan destinasi terakhir di hari pertama kami di Geopark Ciletuh. Kami ke rumah penduduk untuk menginap dan melanjutkan petualangan kami di esok harinya. Masih ada 2 destinasi lagi yang kami kunjungi di Geopark Ciletuh. Tunggu ceritanya ya 🙂

  • Dirgahayu Republik Indonesia 71 Tahun
  • [Geopark Ciletuh] Antara Curug Sodong dan Curug Cikanteh

    Curug Sodong 1

    Setelah menikmati panorama indah Tebing Panenjoan, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Panas terik mulai menyengat, saatnya mencari yang segar-segar. Saya, Nevy Elysa, Wasistyo Adi, Tieky Kristian, Wahyu Basuki dan Suryo melanjutkan perjalanan ke Curug Sodong dan Curug Cikanteh. Dua air terjun ini memang berada di kawasan yang sama. Curug Sodong dapat dicapai setelah berkendara selama 1 jam dari Tebing Panenjoan.

    Saya yang selalu punya keyakinan bahwa tempat apapun yang sulit dicapai pasti spotnya bagus dan begitupun sebaliknya, pertama kali sedikit kecewa melihat bahwa Curug Sodong ternyata dekat sekali dengan tempat parkir mobil. Dari parkiran sih kelihatannya biasa saja. Air terjunnya “gitu doang”. Saya sampai bilang ke teman-teman saya bahwa kita jangan lama-lama di Curug Sodong, mendingan langsung ke spot berikutnya.

    Tapi ya, pepatah jangan pernah lihat sesuatu dari luarnya saja atau dari depannya saja itu memang betul adanya. Untung saja Kang Irwin mengajak saya mendekat lagi ke Curug Sodong karena ternyata setelah dilihat dari dekat dan dari sudut yang berbeda, Curug Sodong ini bagus!

    Curug Sodong 2

    Hanya berjalan 5 menit saya bisa menikmati keindahan Curug Sodong. Curug Sodong terdiri dari 2 buah air terjun, makanya sering disebut Curug Kembar. Aliran airnya cukup deras dan pasti kita akan kecipratan airnya. Hati-hati kameranya ya. Di Curug Sodong saya melihat beberapa pengunjung sedang berenang dan berendam. Leh Uga, seger kayaknya 🙂 Tapi tetap harus hati-hati karena air terjun ini pernah memakan korban jiwa. Jadi, ada mitos yang bilang kalo sepasang kekasih dilarang berenang di Curug Sodong kalau dilanggar nanti bisa tenggelam. Percaya engga percaya sih ya. Soalnya pernah ada kejadian sepasang kekasih menjadi korban jiwa di Curug Sodong ini.

    Curug Sodong 3

    Curug Sodong 4

    Curug Sodong sudah tertata dengan baik untuk wisata. Selain ada tempat parkir, disini juga disediakan bangunan permanen untuk beristirahat, warung dan juga tersedia toilet. Jadi kalau mau membawa keluarga atau anak kecil bisa banget.

    Curug Cikanteh 1

    Curug Cikanteh 2

    Kelar dari Curug Sodong kami melanjutkan perjalanan ke Curug Cikanteh. Nah, dari Curug Sodong ini kita harus sedikit trekking untuk mencapai Curug Cikanteh. Tapi jangan sedih, treknya sudah dibuat paving block kok dan selepas trekking yang lumayan melelahkan itu kita akan disambut air terjun yang indah dan unik. Di Curug Cikanteh ini air terjunnya terdiri dari 2 bagian. Air terjun pertama lurus biasa nih ya tapi air terjun kedua seolah bertingkat karena menyebar.

    Curug Cikanteh 4

    Curug Cikanteh sangat fotogenik. Difoto dari sisi manapun sama bagusnya. Tapi kayaknya curug ini tidak bisa dibuat berenang deh. Airnya kayaknya dalam dan aliran airnya deras. Lagian airnya coklat juga sih.

    Berbeda dengan Curug Sodong, di Curug Cikanteh ini tidak ada fasilitas apa-apa. Jadi benar-benar masih alami, sejuk, pokoknya nyaman deh.

    Curug Cikanteh 3

    Kami tidak sempat berlama-lama menikmati Curug Cikanteh karena waktu yang terbatas. Kami harus melanjutkan perjalanan untuk menikmati sunset di Puncak Darma. Perjalanan mencapai Puncak Darma ini tidak terlupakan. Kenapa? Cek postingan selanjutnya yah 🙂

  • [Geopark Ciletuh] Pesona Tebing Panenjoan

    Tebing Panenjoan 1

    Tidak banyak tempat wisata yang memiliki beragam spot yang menarik untuk dikunjungi dalam satu kawasan. Nah, Geopark Ciletuh adalah salah satu kawasan wisata yang memiliki spot wisata yang lengkap; tebing ada, bukit ada, curug ada, pantai pun ada. Akhir pekan lalu saya, Nevy Elysa, Wasistyo Adi, Tieky Kristian, Wahyu Basuki dan Suryo menyambangi kawasan Geopark Ciletuh. Perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi memakan waktu sekitar 3 jam. Sampai di Cisaat kami berganti mobil dan ditemani Kang Irwin melanjutkan perjalanan ke Ciletuh yang memakan waktu 4 jam saja. Perjalanan kami dari Sukabumi ke Ciletuh cukup gonjang ganjing dan lumayan bikin pinggang pegel. Jalannya berkelok-kelok dan ada beberapa jalan yang rusak.

    Tebing Panenjoan 3

    Tempat pertama yang kami datangi adalah Tebing Panenjoan yang merupakan “pintu masuk” ke kawasan Geopark Ciletuh. Disini kami langsung disambut pemandangan panorama hijau kawasan Geopark Ciletuh. Jangan kuatir, Tebing Panenjoan yang memiliki ketinggian sekitar 250 mdpl ini sudah diberi pembatas sehingga aman untuk menikmati pemandangan sawah dan desa bahkan laut di lokasi Geopark Ciletuh. Beruntung banget waktu kami sampai disini langit lumayan cerah padahal kemarinnya katanya Sukabumi diguyur hujan.

    Puas cuci mata dengan pemandangan ciamik (dan foto-foto tentunya) kami pun menikmati makan siang sebelum lanjut ke spot berikutnya.

    Tebing Panenjoan 2

    Geopark Ciletuh sedang membangun. Di beberapa tempat saya melihat proyek pembangunan termasuk di Tebing Panenjoan. Kawasan Geopark Ciletuh memang sedang mempersiapkan diri karena di tahun 2017 nanti Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengajukan kawasan ini sebagai anggota UNESCO Global Geoparks. Wih keren yah. Sekarang sih Geopark Ciletuh sudah menjadi Geopark Nasional.

    Dalam perjalanan selama dua hari satu malam kami mengunjungi 1 tebing, 3 air terjun, 1 bukit dan 1 pantai di kawasan Geopark Ciletuh. Memang butuh lama kalau ingin menjelajahi semua spot di sini. Air terjunnya saja ada 20 biji katanya dan ada beberapa spot yang belum dibuka untuk umum. Bocoran yang saya dapat katanya ada 2 pantai pasir putih yang mau dibuka untuk umum. Hmmm….menarik.

    Tebing Panenjoan 4

    Karena kami mengunjungi beberapa spot di kawasan Geopark Ciletuh maka ceritanya akan saya bagi dalam beberapa postingan yah. Makanya tetep pantengin blog ini terus yah atau kalau enggak mau ketinggalan subscribe ajah *promosi* 🙂

  • Pesona Pantai Lampuuk Aceh

    Pantai Lampuuk 1

    Lupakan Sabang. Kalau kamu kebetulan sedang berada di Banda Aceh dan tidak punya waktu untuk mengunjungi Sabang karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggal kayak saya, kamu bisa melipir sebentar ke Pantai Lampuuk. Pantai Lampuuk berlokasi di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Kalau dari Banda Aceh, Pantai Lampuuk bisa ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Cucok kan? Hemat waktu. Nah, berikut adalah foto-foto pesona Pantai Lampuuk. Marii……

    Pantai Lampuuk 2

    Pantai Lampuuk 3

    Pantai Lampuuk 7

    Pantai Lampuuk 4

    Pantai Lampuuk 5

    Pantai Lampuuk 8

    Pantai Lampuuk 6

    Oh iya, kalau kebetulan kamu mampir di Pantai Lampuuk jangan lupa cicipin pizza di Joe’s Bungalow yah. Endeuss…

  • Mengenang Pedih di Museum Tsunami Aceh

    Museum Tsunami Aceh - depan

    Museum Tsunami Aceh menghadirkan kembali duka bencana Tsunami Aceh di dalam bangunan yang artistik dan penuh makna.

    Kamu masih ingat tidak bencana Tsunami yang melanda Aceh 12 tahun yang lalu? Saat itu, walau hanya lewat media televisi, saya juga ikut terhanyut dalam kengerian dan kesedihan yang dirasakan para korban Tsunami Aceh. Lewat televisi juga saya menyaksikan bagaimana Aceh dihapus gelombang Tsunami dalam sekejap. Kengerian dan kesedihan itu tentu tidak akan pernah hilang dari ingatan masyarakat Aceh. Dan Museum Tsunami Aceh seolah membuatnya lestari.

    Pada kunjungan saya ke Kota Banda Aceh Bulan Mei 2016 lalu, saya dan teman saya Mitha Fadilla, diantar oleh Pak Taufik Hidayat dan Anton Timur mengunjungi Museum Tsunami Aceh. Museum Tsunami Aceh adalah museum yang terletak di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh dan dibangun sebagai monumen bencana Tsunami yang melanda Aceh di tahun 2004. Museum Tsunami Aceh didesain oleh Ridwan Kamil setelah memenangkan kompetisi desain berhadiah utama 100 juta rupiah. Untuk menikmati museum ini pengunjung tidak perlu membayar apapun alias gratis. Namun walaupun gratis, museum ini terawat dengan baik.

    Lorong Tsunami

    Bagian pertama dari Museum Tsunami Aceh adalah Lorong Tsunami. disini kita akan melewati semacam lorong gelap dengan dinding air. Sesekali tetesan air jatuh dari atap. Di Lorong Tsunami ini memang kita diajak untuk merasakan berada di dalam gelombang Tsunami. Sangat sangat mengerikan. Bisa kebayang bagaimana perasaan para korban tsunami dahulu.

    Ruang Kenangan

    Setelah melewati Lorong Tsunami kita akan memasuki Ruang Kenangan. Disini ada puluhan layar TV yang memutar foto-foto setelah Tsunami melanda Aceh. Saya dapat merasakan kengerian yang dialami oleh masyarakat Aceh pada waktu itu. Keluar dari Ruang Kenangan, saya memasuki Ruang Sumur Doa. Ruang Sumur Doa berbentuk silinder dengan cahaya remang. Di sekeliling dinding Ruang sumur Doa, terdapat nama-nama para korban Tsunami Aceh. Jika kita melihat ke atas langit-langitnya, terdapat kaligrafi tulisan ALLAH.

    Ruang Doa

    Bagian museum yang paling menarik menurut saya adalah ruangan yang memajang semua benda-benda sisa kengerian tsunami. Ada jam besar yang waktunya berhenti sewaktu kejadian Tsunami. Ada beberapa barang milik korban Tsunami, dan beberapa Alquran. Di ruangan ini juga terdapat diorama yang menggambarkan kejadian tsunami tersebut.

    Alquran

    Barang Barang

    Diorama

    Bagian paling artistik di Museum Tsunami Aceh adalah Jembatan Harapan. Bagian ini juga yang paling banyak dipakai untuk spot foto para pengunjung. Diatas Jembatan Harapan ini penuh dengan bendera Negara-negara yang ikut membantu Indonesia dalam menanggulangi Bencana Tsunami Aceh yang memakan korban tewas 220.000 orang ini. Total ada 52 negara yang ikut membantu Indonesia dalam menanggulangi bencana tsunami ini.

    Jembatan

    Museum Tsunami Aceh tidak boleh dilewatkan kalau kamu mengunjungi Kota Banda Aceh. Mungkin ini adalah museum paling menarik, modern dan artistik yang pernah saya kunjungi di Indonesia. Nah, menurut kamu museum apa yang juga menarik di Indonesia? Share ceritamu yah 🙂

  • Tak Ada Sunrise di Bromo

    Bromo 1

    Mengunjungi Bromo tanpa sunrisenya yang cantik juga tak kalah asik

    Kayaknya nih ya, 99% persen orang yang wisata ke Gunung Bromo itu pasti mengejar sunrisenya yang terkenal cantik. Kalau enggak mengejar sunrise ya ke kawahnya lah. Karena dua hal itu memang menjadi daya tarik utama Bromo. Tapi nih, saya pernah ke Bromo tanpa mengejar sunrise dan tanpa mengunjungi kawahnya. Trus ngapain dong?

    Jadi ya, sekitar bulan Agustus 2015 lalu saya dan teman-teman saya Nevy Elysa, Dhede Wantah, Wahyu Basuki dan Tieky Kristian melakukan perjalanan panjang mengeksplor daerah Lumajang, Probolinggo dan sekitarnya di Jawa Timur. Bromo kebetulan merupakan destinasi di hari terakhir sebelum besoknya kami kembali ke Jakarta. Ceritanya nih, kami sudah merencanakan bangun subuh lalu meluncur ke Bromo untuk mengejar sunrise. Tapi yah rencana tinggal rencana. Karena kami sudah tua kecapekan maka kami engga bisa bangun!

    Badan rasanya sakit semua. Jangankan bangun, niat bangun aja engga ada. Akhirnya kami lanjut tidur dan baru bangun sekitar jam 05.00. Dari Probolinggo kami baru berangkat jam 05.30 dan sampai di Bromo sekitar jam 06.30 pagi. Rupanya pas kami kesana itu, Bromo lagi penuh-penuhnya dan macet panjang karena long weekend. Kami sempat menunggu lama karena jeep pesanan kami terjebak macet.

    Bromo 2

    Destinasi pertama kami adalah Pura Luhur Poten yang terletak di lautan pasir kaki Gunung Bromo. Pura Luhur Poten merupakan Pura suci Umat Hindu Suku Tengger. Sering juga Umat Hindu dari daerah lain berkunjung dan melakukan persembahyangan di pura ini. Sayangnya saya sedang tidak bisa sembahyang, jadilah saya hanya foto-foto saja. Pura Luhur Poten sangat cantik dengan latar belakang Gunung Batok.

    Dari Pura kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Teletubbies. Bukit Teletubbies ini adalah daerah padang savanna di Bromo. Ketika musim hujan, padang ini akan ditumbuhi rumput hijau sehingga menjadikannya mirip bukit di film Teletubbies. Waktu kami kesini di Bulan Agustus padang rumputnya mengering berwarna coklat karena sudah masuk musim kering. Tapi pas banget kami kesini cuacanya lagi ciamik. Langitnya biru banget kayak di photoshop. Dipadu dengan padang rumput yang berwarna coklat, jadilah pemandangan spekta deh.

    Bromo 3

    Trus kami ngapain? Ya foto-foto lah. Foto landscape, foto gaya lompat, pokoknya semua gaya yang lagi kekinian kami cobain. Panas-panasan, debu-debuan dijabanin demi foto layak pamer. Hahaha 🙂

    Bromo 4

    Bromo 5

    Udah capek foto lompat-lompatan di Bukit Teletubbies, kami bergerak ke Pasir Berbisik. Di tengah jalan kami sempet berhenti karena kami menemukan spot yang (menurut kami) keren. Foto-foto lagi lah ya.

    Bromo 6

    Bromo 7

    Bromo 8

    Pasir Berbisik ini adalah lautan pasir yang dulu merupakan lokasi film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro. Pada tau kan filmnya? Nah, kalau kamu lagi ke Bromo boleh banget foto-foto disini. Karena waktu itu Bulan Agustus dan besoknya 17 Agustus 2015, kita foto-foto dengan properti bendera merah putih hasil minjem pengunjung lain dan juga banner kecil bertuliskan ‘You Should Be Here’ kepunyaan Dhede Wantah. Eh ada yang tau engga sih dimana beli banner kayak gitu? Kalo ada yang tau kasi tau yaa

    Nahh…begitu deh pengalaman saya ke Bromo tanpa melihat sunrise dan pergi ke kawahnya. Engga Seru? Ah, seru seru aja kok. Justru saya lebih menikmati karena badan sudah enak sehingga energi buat makan jalan-jalan sudah kembali full. Lagian perjalanan itu intinya untuk dinikmati bukan?

    Kalau kamu mau tahu destinasi lain di Bromo selain melihat sunrise dan ke kawahnya, baca aja nih tulisannya guru menulis saya mas Teguh Sudarisman disini tentang pengalamannya mendaki Gunung Batok. Dijamin pasti pengen.

    Ada yang mau nambahin?

  • Berkunjung ke Rumah Tjong A Fie

    Rumah Tjong A Fie

    Success and glory consists not in what I have gotten but in what I have given
    (Tjong A Fie)

    Dalam suatu kunjungan singkat ke Kota Medan, saya berkesempatan mengunjungi Rumah Tjong A Fie (Tjong A Fie Mansion) yang terletak di Jalan Ahmad Yani No. 97-99, Medan. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 35.000 saya dan teman-teman saya Mitha, Ahmad dan Yayi langsung ditemani oleh seorang guide yang memandu kami menjelajah Rumah Tjong A Fie.

    Begitu pertama kali memasuki Rumah Tjong A Fie, saya langsung disambut suasana mistis khas bangunan tua. Ditambah lagi saya datang di sore hari sehingga ruangannya temaram dan agak minim cahaya lampu maupun sinar matahari. Ada kejadian lucu. Ketika baru memasuki pintu pertama, kami harus melewati semacam gundukan. Mbak guidenya kemudian berkata “konon katanya, kalau yang masih single tidak boleh menginjak gundukan di setiap pintu, nanti susah jodohnya”. Entah benar atau tidak, tapi si mbak sukses membuat kami berhati-hati agar tidak menginjak gundukan selama kami mengitari rumah Tjong A Fie tersebut 🙂

    Rumah Tjong A Fie 2

    Kamu yang bukan orang Medan, mungkin tidak begitu tahu siapa itu Tjong A Fie. Tapi buat orang Medan, Tjong A Fie adalah seorang legenda besar yang dihormati. Tjong A Fie adalah seorang pengusaha besar, bankir sukses dan kapitan yang ternama di Sumatera. Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.

    Meski menjadi seorang pengusaha besar, Tjong A Fie sangat dermawan dan sangat dekat dengan masyarakat pribumi dan sangat berjasa dalam membangun Kota Medan. Itulah sebabnya hingga saat ini Tjong A Fie masih dikenang namanya oleh masyarakat Medan.

    Rumah Tjong A Fie 3

    Rumah Tjong A Fie memiliki luas 6000 m2 dengan arsitektur perpaduan Cina kuno dan gaya Eropa dan Melayu. Rumah Tjong A Fie didominasi dengan kayu yang masih terawat hingga sekarang. Saya sangat mengapresiasi keluarga Tjong A Fie yang masih merawat rumah ini dengan baik sehingga cerita tentang Tjong A Fie masih tetap dapat dinikmati hingga sekarang.

    Rumah Tjong A Fie memiliki 3 ruang tamu berukuran besar. Yaitu ruang tamu utama, ruang tamu untuk menyambut Sultan Deli dan ruang tamu untuk masyarakat pribumi. Ada lagi satu ruangan besar di lantai 2 semacam ballroom yang digunakan Tjong A fie untuk mengadakan pesta. Sebagian area Rumah Tjong A Fie masih dihuni oleh keturunannya sehingga tidak semua ruangan di Rumah Tjong A Fie dapat saya masuki. Tangga di Rumah Tjong A Fie sangat unik. Tangga dibagi menjadi dua. Ada yang diperuntukkan untuk tangga turun dan ada juga yang khusus untuk tangga naik. Toilet atau kamar mandi letaknya terpisah di bagian lain rumah.

    Rumah Tjong A Fie 4

    Rumah Tjong A Fie 5

    Yang menarik lagi dari Rumah Tjong A Fie ini adalah perabotan di setiap ruangan masih asli seperti dulu. Contohnya nih, di kamar tidur Tjong A Fie saya menemukan timbangan dan vacuum cleaner jadul selain koleksi buku-buku yang berbahasa Belanda. Lain lagi di ruang makan. Di ruang makan piring, sendok dan peralatan makannya juga masih asli dan tidak boleh disentuh. Belum lagi koleksi lukisan Tjong A Fie.

    Oh iya ngomong-ngomong soal ruang makan, di ruang makan ini ada sebuah ruangan yang katanya angker. Bahkan si mbak guide menyarankan kita untuk tidak mengambil foto yang mengarah ke ruangan tersebut. Tapi waktu ditanya kenapa dia engga mau jawab. Karena anaknya penakut akhirnya saya mengikuti saran si mbak. Di Rumah Tjong A Fie ini memang ada beberapa spot yang tidak boleh difoto. Makanya kalau kamu kesini saya anjurkan ditemani guide.

    Rumah Tjong A Fie 6

    FullSizeRender(5)

    Bagian favorit saya di Rumah Tjong A Fie ini adalah jendelanya yang super cantik. Jendela kuno yang didominasi warna hijau ini sangat instagramable. Saya juga sangat suka dan terkagum-kagum dengan surat wasiat Tjong A Fie yang tertempel di dinding. Surat wasiat itu berisikan pesan Tjong A Fie yang salah satunya adalah pesan agar memberikan sedekah/santunan kepada yang berkepentingan tanpa membedakan golongan bangsa yang oleh karena cacat badan, buta, sakit panjang atau penyakit-penyakit lain dan tidak mampu menghidupi dirinya sendiri. Mulia sekali ya.

    Rumah Tjong A Fie 7

    Mengunjungi Rumah Tjong A Fie seperti bertamasya ke masa lalu di kehidupan seorang pengusaha yang kaya raya yang sangat mengasihi sesamanya. Suatu hal yang nampaknya sudah mulai langka di kehidupan sekarang. Saya merekomendasikan Rumah Tjong A Fie sebagai destinasi kalau kamu berkunjung ke Medan.

    Itulah sedikit cerita saya waktu berkunjung ke Rumah Tjong A Fie. Kamu pernah berkunjung ke Rumah Tjong A Fie? Share ceritamu dong 🙂