Hening merefleksikan
Dalam hening kita dapat melihat dengan lebih baik
Selamat Hari Raya Nyepi
Tahun Baru Saka 1938
Travel, Food and Everything in Between



Bulan Februari lalu, saya dan Nevy Elysa melakukan perjalanan tahunan alias Birthday Trip ke Dieng, Wonosobo. Seminggu sebelum perjalanan, saya baru inget kalo ritual perjalanan tahunan saya akan segera dimulai. Langsung deh grabak grubuk cari destinasi yang akhirnya diputuskan ke Dieng. Kenapa Dieng? Karena pengen liat sunrise di bukit. Itu aja sih J. Destinasi dapet, cari temen jalan. Beruntung saya punya temen yang “murahan” kalo diajak jalan. Cuma di whatsapp “Wei, ke Dieng yuk mingdep” langsung iya aja. H-5 keberangkatan baru beli tiket pp dan H-2 baru liat info sekilas, berangkatlah kita ke Dieng.
Dieng yang merupakan dataran tinggi yang terletak di Wonosobo, Jawa Tengah ini adalah tujuan wisata yang serba komplit, serba murah, serba indah dan serba eksotik. Dari arti nama Dieng yang berarti ‘tempat bersemayam para dewa dan dewi’ maka sudah dapat dipastikan kalau Dieng itu luar biasa cantik. Nah, salah satu tempat yang wajib kamu kunjungi di Dieng yang istilahnya jaman sekarang “instagramable banget” adalah Batu Ratapan Angin.
Selepas dari hunting sunrise di Bukit Sikunir, kami diantar naik motor ke Batu Ratapan Angin. Dari parkiran motor kita harus jalan sedikit untuk mencapai Batu Ratapan Angin yang merupakan dua buah batu besar diatas bukit. Saya dan Nevy memilih batu yang lebih rendah mengingat kaki yang pegal sehabis trekking ke Bukit Sikunir. Dari Batu Ratapan Angin ini kita bisa melihat dengan jelas Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang dikelilingi oleh pepohonan. Cuaca di Bulan Februari yang menyisakan sedikit kabut dan langit yang kelabu membuat dominasi warna hijau pepohonan di sekeliling telaga warna menjadi sangat pekat. Indah sekali.
Jika kita duduk diatas Batu Ratapan Angin kita akan mendapatkan suasana yang sunyi dan sejuk dan sesekali telinga kita akan dibelai oleh suara angin menerpa batu. Damai rasanya. Saya dan Nevy sepakat kalau Batu Ratapan Angin adalah tempat yang cocok untuk “menggalau’’. Bhihikk 🙂
Ternyata, selain keindahannya, ada cerita di balik Batu Ratapan Angin yang saya dapatkan dari hasil berselancar di internet. Ceritanya begini,
Pada jaman dahulu kala ada seorang pangeran tampan dan putri jelita yang hidup rukun damai dan penuh cinta. Seiring perjalanan waktu, kisah cinta mereka mendapat cobaan dengan hadirnya orang ketiga yang menggoda sang putri. Sang putri terjerat dalam hubungan asmara terlarang. Lambat laun cerita perselingkuhan tersebut sampai ke telinga pangeran yang akhirnya menyelidiki kebenaran cerita tersebut.
Betapa terkejutnya sang pangeran mendapati dengan mata kepalanya sendiri sang putri berselingkuh. Sang Putri sambil menangis dan meratap memohon maaf pada sang pangeran. Sang pangeran menjadi murka dan mengutuk keduanya menjadi batu. Sang Putri menjelma menjadi menjadi batu yang terduduk dan kekasih gelapnya menjadi batu yang berdiri. Konon suara angin yang menerpa batu seperti bunyi ratapan merupakan tangisan ratapan sang putri yang memohon maaf kepada pangeran.


Kamu sedang berada di Jogja? butuh sedikit petualangan? nah, kamu harus mencoba berwisata menggunakan jeep di Merapi. Dijamin seru dan luar biasa.
Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Jogjakarta dalam rangka misi untuk kantor saya. Yah, lumayanlah jalan-jalan gratis. Hehehehe. Nah, dalam perjalanan saya itu saya berkesempatan mencoba Wisata Jeep Merapi. Dari namanya saja sudah bikin semangat. Bayangin aja, naik Jeep. Pasti seru kan. Makanya walaupun saya harus bangun pagi-pagi demi mencoba wisata Jeep Merapi ini saya hepi-hepi aja tuh.
Saya dan teman-teman sampai di Kaliurang sekitar jam 8 Pagi. Saya langsung mengambil posisi di samping pak kusir yang sedang bekerja. Eh maksudnya di samping Mas Danang yang menjadi pemandu kami. Jeep yang dipakai untuk wisata Merapi ini berbeda dengan jeep yang kita pakai kalau mau ke Bromo. Disini jeepnya lebih kecil dan terbuka. Makanya sebelum berangkat Mas Danang nanya-nanya “kamu gak pake jaket? banyak debu loh nanti”. Karena saya terlalu malas untuk mengambil jaket lagi di mobil, langsung aja berangkat bermodalkan kaca mata dan masker. Ah, emang sebanyak itu apa debunya, pikir saya dengan sotoynya. Ternyata, yahh……bisa dibilang ini perjalanan berdebu. Hehehehe.
Pertama-tama sih jalanannya masih beraspal, udaranya juga masih sejuk. Tapi makin lama jalanannya makin kecil dan mulai tidak rata. Pemberhentian pertama kami adalah Kali Kuning. Dulu kawasan Kali Kuning ini sangat hijau, asri dan sejuk. Tapi sejak erupsi Merapi tahun 2010 lalu, kondisi Kali Kuning berubah. Kali Kuning sekarang menjadi hamparan abu-abu dan suram.
Selepas Kali Kuning, kami beberapa kali melewati bekas-bekas pemukiman penduduk yang hancur diterjang awan panas Merapi. Yang paling sedih sih sewaktu melewati lokasi kuburan massal penduduk merapi yang menjadi korban. Hiks 😦
Ada beberapa titik pemberhentian dalam wisata Jeep Merapi ini. Pertama kita akan diajak melihat Batu Alien. Batu Alien ini adalah batu besar yang kalau dilihat-lihat menyerupai muka alien. Tapi menurut saya sih yang seru malah foto-foto pemandangannya dan juga sekalian foto-foto di jeepnya. Lumayanlah ya buat nambah-nambah stok foto profile picture BBM. Hehehehe.
Kami juga sempat melewati museum kecil Merapi. Engga mampir sih, cuma lewat aja. Kata Mas Danang disini banyak benda-benda sisa erupsi merapi yang dikumpulkan. Sewaktu lewat, saya sempat melihat ada tulang-tulang binatang yang digantung. Hii…
Tepat di Kali Adem, jeep kami berhenti lagi. Lokasi ini cocok banget buat foto-foto. Saya lumayan lama berhenti disini. Dibanding Kali Kuning, pemandangan di Kali Adem lebih suram lagi, lebih abu-abu lagi. Kering kerontang. Disini kamu bisa melihat bunker yang digunakan untuk berlindung. Nah, di bunker ini pernah ada yang meninggal karena kepanasan sewaktu berlindung dari lahar panas Merapi. Hiks 😦
Kali Adem ini adalah tujuan terakhir dari Wisata Jeep Merapi yang saya ikuti. Wisata yang sangat seru dan menyenangkan. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari wisata Merapi ini. Pokoknya engga rugi deh kalau ikut Wisata Jeep Merapi ini. Berminat? kalau mau enggak repot, kamu bisa menghubungi Mas Danang Lampahsae di nomer 087739285298 Nanti semuanya diurus sama dia deh. Hehehehehe. Selamat bertualang 🙂
Tips :
Kalau kamu mau ikut wisata Jeep Merapi ini sebaiknya kamu membawa masker, tapi lebih oke lagi kalo kamu pakai Buff, jadi lebih nyaman aja. Oh iya sama bawa kaca mata. Selain nambah keren juga bisa menghalangi debu masuk ke mata. Apa lagi yah, oh iya lebih baik kamu pake celana panjang dan sepatu tertutup. Jadi engga kena debu. Tapi kalo mau pake celana pendek sama sendal juga gak papa sih. Asal jangan pake heels ya, engga bangettt 😛

‘Catatan perjalanan unik, seru dan luar biasa tentang Indonesia’. Begitulah tagline di sampul buku Travel Writer Diaries karangan Teguh Sudarisman. Mengenal baik Mas Teguh Sudarisman membuat saya yakin bahwa buku karyanya ini bukan sekedar buku traveling biasa. Pengalamannya menjadi seorang travel writer akan menambah semarak buku pertamanya ini, dan nyatanya saya pribadi cukup terpuaskan.
Membaca buku Travel Writer Diaries seakan membawa saya berpetualang bersama Mas Teguh karena tulisannya cukup detail mengemas segala yang dia lihat, dengar dan rasakan selama perjalanannya itu. Lebih istimewa lagi, di setiap tempat yang didatangi, Mas Teguh akan menyelipkan sejarah-sejarah atau cerita-cerita masa lalu tentang tempat tersebut. Sehabis saya membaca buku Travel Writer Diaries ini, saya jadi tahu cerita tentang relief di Tugu Raja Silahisabungan di Silalahi, cerita tentang Istana Kaibon di Banten sampai ke serba serbi tentang Salak Bali yang sangat menarik ketika Mas Teguh mengunjungi kebun salak di Karangasem, Bali.
Cerita tentang traveling tidak mesti tentang suatu tempat wisata saja. Ini yang selalu diingatkan oleh Mas Teguh dalam setiap Workshop Travel Writer yang diadakannya. Di Buku ini pun, selain tentang tempat wisata, Mas Teguh menulis tentang hal-hal lain seperti peternakan mutiara di Bali Utara sampai ke proses menumbuhkan terumbu karang. Melalui Buku Travel Writer Diaries ini Mas Teguh menemukan hal-hal menarik lain yang tidak ada di buku traveling lain. Contohnya saja ya, seingat saya belum ada buku traveling yang menulis tentang Kebun Raya Cibodas dengan tulisan menarik sehingga saya yang membacanya ingin berkunjung kesana.
Secara keseluruhan, cerita-cerita di Buku Travel Writer Diaries ini sangat menarik. Tetapi sayangnya, tulisan-tulisan tips di kotak diwarnai biru sehingga kurang nyaman membacanya. Dan seandainya foto-foto di dalam buku ini dibuat berwarna dan kualitas kertas yang sedikit lebih bagus, tentunya buku ini akan menjadi indah.
Oh iya, saya menyarankan bagi kamu yang ingin menjadi Travel Writer untuk membeli buku ini karena di bab terakhir Mas Teguh memberikan bonus tulisan tentang Travel Writer. Ayo, Keluarlah dan Tulis Ceritamu Sendiri!


Alkisah di suatu pagi yang berkabut tebal dan disertai hujan ringan, keluarlah 5 orang perempuan Indonesia disertai guide lokal dari tempat menginap mereka selama di Sa Pa, Sapa Unique Hotel. Hari itu mereka akan melakukan trekking sejauh 8 kilometer mengunjungi Lao Cai Village. Tidak lama berjalan, kelima perempuan itu tersadar kalau mereka diikuti oleh lima orang perempuan Black Hmong yang juga merupakan warga Lao Cai Village.
Para perempuan Black Hmong itu memakai baju khas mereka yang berwarna hitam. Dua diantaranya memakai ikat kepala dari kain berwarna pink cerah. Mereka membawa keranjang yang diikatkan di punggung. Dengan sepatu bots yang biasa dipakai para pekerja itu, langkah mereka lebih mantap menerjang jalanan yang becek dan berbatu dibandingkan 5 perempuan Indonesia yang jarang olahraga dan cuma lihai jalan keliling mal saja itu.
Kelima perempuan Black Hmong tanpa terlihat terengah-engah berjalan bergerombol di belakang sambil mengobrol seru dalam bahasa daerah mereka. Sesekali salah satu diantara mereka mengiringi saya sambil terbata-bata bertanya dalam Bahasa Inggris : “nama kamu siapa?, asalnya darimana?”. Ketika dijawab dan diajak ngobrol lebih lanjut, mereka cuma senyum-senyum dan mengangguk. Entah mereka mengerti atau tidak. Karena kendala bahasa tersebut, masing-masing kelompok dari dunia yang sangat berbeda itu hanya mengobrol sendiri-sendiri.
Menurut penjelasan dari om Wikipedia, Hmong adalah etnis asli masyarakat yang tinggal di pegunungan di Vietnam. Ada 2 tipe etnis Hmong yaitu Black dan Flower. Perbedaannya bisa dilihat dari pakaian yang mereka kenakan. Nah, bicara tentang perempuan Black Hmong, sama seperti perempuan pada umumnya bertugas untuk merawat anak, memasak dan mengurus rumah dan ternak serta membantu suami mereka di sawah. Selain itu mereka juga membuat kerajinan tangan dengan merajut dan menenun di kain yang diwarnai secara alami. Dari hasil dari blogwalking saya tahu, ternyata sekarang peran para perempuan Black Hmong juga bertambah karena membantu perekonomian keluarga dengan menjual souvenir kepada turis.
Oke, lanjut dengan perjalanan kami menuju Lao Cai Village. Sebenarnya, perjalanan sejauh 8 kilometer itu tidak terlalu menyulitkan apabila saya memilih alas kaki yang tepat. Tapi dengan ke-sotoy-an yang tiada tara, saya mengira bahwa sandal gunung adalah jawaban dari segala situasi. Hasilnya, jalan jadi terseok-seok dan kaki lecet-lecet. Beda dengan perempuan Black Hmong. Jalannya mereka lincah dan mantap. Mereka juga sesekali membantu memegang tangan saya ketika turun.
Di luar dari kaki lecet dan linu-linu, saya sangat suka dengan perjalanan ini. Kabut, pemandangan hijau-hijau sejauh mata memandang, melihat dari dekat kehidupan Black Hmong people, melihat rumah mereka, melihat cara mereka mewarnai kain, mendengar bahasa asing yang belum pernah saya dengar sama sekali. Pokoknya seru banget deh.
Oh iya, akhirnya saya tahu apa isi keranjang yang dibawa oleh para perempuan Black Hmong itu. Sesampainya kami di tempat makan siang, langsung kami diserbu oleh mereka. Mereka mengeluarkan souvenir dari keranjang dan menawarkannya kepada kami. Hampir seluruh turis yang makan disana dikelilingi oleh perempuan Black Hmong yang menawarkan dagangannya. Weww.
Saya salut juga sih sama para perempuan Black Hmong itu. Bayangin aja. Mereka berjalan sejauh 8 kilometer dengan membawa keranjang dan menempuh medan berat hanya untuk menawarkan dagangan mereka. Iya kalo mereka dapet turis yang tajir banyak duit. Nah kalo dapetnya turis-irit-budget kayak saya? Sepadan gak tuh ya dengan usaha mereka?
Tapi ya hidup memang begitu. Keras. Mungkin buat mereka lebih baik usaha begitu daripada duduk aja di rumah engga dapet apa-apa. Gak dimana-mana, supaya dapet lebih kita harus kerja lebih keras. ya nggak? 🙂

Saya baru kembali dari trip saya ke Hanoi, Vietnam. Banyak hal-hal menarik yang saya temukan selama perjalanan. Tapi yang pertama saya mau cerita kalo saya sudah merasakan tidur di 4 moda transportasi dalam satu trip. Begini ceritanya……
1. Pesawat Terbang
Berkat jasa teman saya Irev, kami (Saya, Hafida, Irev, Githa dan Mbak Febie) mendapatkan tiket-promo-murah-harga-cihuy dari Malaysia Airlines untuk perjalanan Jakarta – Hanoi PP. Penerbangan dari Jakarta – Kuala Lumpur memakan waktu 2 jam, sedangkan Kuala Lumpur – Hanoi memakan waktu 3 jam. Berhubung saya dapet penerbangan pagi hari dan rumah saya di ujung Jakarta, jadilah pagi-pagi buta saya sudah nangkring di Bandara Soekarno Hatta. Sebenernya, posisi duduk di pesawat itu menentukan apakah saya akan tidur selama perjalanan atau enggak. Kalo dapet duduk di jendela dengan pemandangan bagus, bisa jadi saya enggak tidur. Tapi kalo dapet kursi di tengah, bosan, ngantuk, yasudah lah ya tidur ajaaa…..zzzz…..zzzz
2. Kereta Api
Githa & Irev dalam posisi siap tidur
Itinerary kami yang pertama ada mengunjungi Sa Pa, kota di propinsi Lao Cai, Vietnam. Dari Hanoi, perjalanan menuju Sa Pa dapat ditempuh dalam waktu 9 jam dengan menggunakan Sleeper Train. Berangkat dari Hanoi jam 9 malam, Sampai Lao Cai jam 6 pagi. Sleeper Train ini di setiap gerbongnya dilengkapi beberapa kamar dengan 2 tempat tidur bertingkat di dalamnya. Masing-masing tempat tidur dilengkapi dengan bantal dan selimut yang lumayan tebal. Seru loh naik kereta ini. Saya yang mengambil posisi tempat tidur di atas lumayan enak dan enggak banyak guncangan yang berarti.
3. Kapal Laut
Tempat tidur yang bersih dan nyaman
Kapal laut disini bukan yang berjenis Ferry, tetapi semacam kapal yang biasa buat nyebrang ke Pulau Seribu itu loh. Tapi bedanya, kapal ini dilengkapi dengan restoran, tempat bersantai di atap kapal dan kamar-kamar yang didalamnya ada tempat tidur dan kamar mandi plus toilet. Nah, waktu ke Halong Bay, saya sempat merasakan tidur semalam di kapal yang bernama Poseidon. Enak sih, kapalnya tenang dan tidak ada guncangan ombak sama sekali. Sebenernya sih, kapalnya emang engga jalan. Jadi ya, kapal saya dan kapal-kapal lain mengapung bareng di suatu tempat. Kayak kota mengapung gitu. Keren deh.
4. Bis
Nah, untuk melengkapi tidur di 4 moda transportasi, selama perjalanan dari Halong Bay menuju Hanoi, saya tidur dengan tenangnya di bis ber AC di sepanjang perjalanan. Heehehe 🙂
Yah, begitulah cerita saya mengenai tidur di 4 moda transportasi dalam satu trip. Cerita-cerita lainnya menyusul yaa……