• Sejenak di Curug Country

    Curug Country 1

    Kayaknya sudah lama juga saya engga main-main ke air terjun. Terakhir itu kayaknya waktu ke Curug Awang serta Curug Sodong dan Curug Cikanteh di Geopark Ciletuh. Akhirnya Sabtu kemarin saya main lagi ke air terjun padahal engga direncanain. Jadi ceritanya sahabat saya, Wahyu, pengen banget ngetrip ke seputaran Jonggol. Lumayan deket kan dari Jakarta. Destinasi incerannya adalah Penangkaran Rusa Cariu. Tapi sayangnya pas banget awal tahun 2018 ini disana terjadi musibah putusnya jembatan kayu yang memakan korban. Beritanya bisa diliat di sini. Nah, saya tuh sempet nelponin kantor penangkaran rusanya. Kali-kali aja gitu udah dibuka lagi. Cuma ya engga ada yang angkat telponnya. Tapi biar begitu kami tetap membulatkan tekad mau jalan-jalan aja pokoknya.

    Sabtu pagi berangkatlah saya, Wahyu dan Tieky ke Penangkaran Rusa Cariu. Dari titik pertemuan kami di Mc Donalds Buperta Cibubur perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam. kami mengandalkan Google Maps melewati rute jalan Transyogi Cibubur. pemandangan di Jalan Raya Jonggol – Cariu bagus deh. Kanan-kiri pemandangannya sawah-sawah gitu. Engga lagi kayak di deket Jakarta.

    Singkat cerita kami sampe di jalan yang ke Penangkaran Rusa Cariu. Berhubung sinyal GPSnya tiba-tiba hilang, kami bertanyalah kepada bapak-bapak yang ada di warung di pinggir jalan. Si bapak bilang kalau kita sudah udah kelewatan jalan masuk ke Penangkaran Rusanya. Bapaknya juga bilang kalau penangkaran rusanya masih ditutup. Nah, sebelumnya saya udah sempet browsing-browsing tempat-tempat wisata di sekitar Penangkaran Rusa ini. Tempat wisata terdekatnya adalah Curug Country. Akhirnya kami putar balik menuju Curug Country.

    Curug Country 2

    Oh iya, kalau kamu mau ke Curug Country ini, penunjuk jalan terbaik adalah Google Maps. Soalnya sama sekali tidak ada penunjuk jalan menuju ke Curug Country. Paling bener pake maps aja deh. Dijamin sampe. Jalanan menuju parkiran Curug Country bisa dilalui mobil kok.

    Ketika sampai di area wisata Curug Country, di pos jaga kami diharuskan membayar biaya masuk Rp10.000/orang. Dikasi tiket masuk sih, tapi cuma satu gitu sedangkan kami bertiga. Setelah masuk dan sampai di parkirannya kami kemudian diharuskan membayar biaya parkir Rp15.000 dan diberikan tiket parkir.

    Curug Country 3

    Dari parkiran kami masih harus turun lagi melalui jalan setapak. Yah sekitar 5 menitan lah. Jalan setapaknya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan kami turun. Kami juga harus melewati jembatan kayu menyeberangi sungai untuk mencapai Curug Country. Di Curug Country ada dua warung di dekat curugnya. jadi kalau kamu mau minum ataupun makan pop mie sambil liat air terjun bisa banget. Oh iya, di sini juga ada 3 gubukan gitu buat ganti baju sama satu gubukan yang difungsikan sebagai “toilet”.

    Kalau kamu browsing di internet, banyak yang menyebut Curug Country sebagai “Niagara mini” yang menurut saya berlebihan. Curug Country memang bagus konturnya. Berundak-undak gitu. Tetapi debit airnya kecil padahal saat ini musim hujan, loh. Mungkin nih kalau debit airnya deras baru deh agak mirip Niagara mini. Kalo kemarin saya lihat sih Curug Country ini kayak versi raksasanya design air terjun yang buat taman-taman kecil itu loh. Mungkin yang design dulu terinspirasi dengan Curug Country.

    Curug Country 4

    Waktu saya ke Curug Country kemarin, curugnya sepi banget. Cuma ada kami bertiga dan satu orang yang pergi engga lama kami datang. Jadi suasana curugnya dapet lah. Sejuk, tenang. Duduk-duduk selow selow di sini enak. Sambil dengerin air terjun. Bikin refresh pikiran.

    Curug Country 5

    Sebenarnya lebih asik lagi kalo Curug Country ini bersih ya. Waktu saya membayar biaya masuk dan biaya parkir saya berharap curugnya terawat dan bersih. Tapi nyatanya engga. Banyak sampah dimana-mana. Bahkan warung-warung yang jualan di situ buang sampahnya di situ juga. Duh.

    Menurut saya sih, lebih baik sekalian saja Curug Country dikelola baik sebagai tempat wisata, dirawat, dibersihkan dan diberikan fasilitas memadai. Pasti akan lebih banyak lagi pengunjung yang datang. Enggak masalah kok kalau harus membayar biaya masuk. Soalnya sayang aja tempat bagus seperti Curug Country ini kalau tidak dirawat dengan baik.

     

     

     

  • Ngopi Sore di Dante Coffee Jemursari

    Jadi ya, sekarang saya sering bolak-balik Jakarta – Surabaya. Yah, minimal sebulan sekalilah berkunjung ke Surabaya dalam rangka nengokin suami. Nah, kira-kira sebulan yang lalu saya dan suami nemu tempat ngopi di Jalan Jemursari, Surabaya, namanya Dante Coffee. Si Dante Coffee ini letaknya nempel banget sama Hotel Zoom.

    Dante Coffee 2

    Dari depan ni café emang udah keliatan imut-imut banget. Teras cafenya jadi area smoking yang dilengkapi dengan 4 meja. Untuk pengunjung yang tidak merokok dapat mempergunakan area dalam café. Di sini mejanya lebih banyak, sekitar 5 meja yang 2 meja diantaranya dilengkapi tempat duduk sofa.

    Dari segi interior, café ini memang simple dan minimalis banget. Temboknya berwarna abu-abu dan rak-rak furniturenya didominasi warna coklat kayu. Karena banyak jendela, ruangan café jadi terang dan terkesan lega. Yah, lumayanlah kalau buat nongkrong-nongkrong ngopi di sore hari.

    Dante Coffee 3

    Kalau dari segi menu, Dante Coffee sama seperti café lain menawarkan menu varian kopi lengkap dengan makanan kecilnya. Waktu itu saya memesan Crème Brule sedangkan suami saya memesan kopi hitam. Menurut saya lumayanlah rasanya. Suami saya juga bilang kopi hitamnya enak.

    Dante Coffee 1

    Secara keseluruhan, café ini layak dikunjungi dan bisa buat alternative tempat nongkrong buat warga Surabaya yang berdomisili di area Jemursari. Soalnya Dante Coffee ini bukanya 24 jam loh. Oh iya. Menurut saya café ini adalah café yang punya toilet paling bersih yang pernah saya datangi. Soalnya nih, toiletnya cafenya menggunakan toilet Hotel Zoom. Jadi keren kan. Toilet hotel gitu. Hahahahaha.

     

     

     

    Dante Coffee Shop
    Alamat : Jl. Raya Jemur Sari No. 109, Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya
    Jam Buka : 24 Jam.

  • From Cipete With L.O.F

    LOF 1

    Sebenarnya saya sudah lama melihat foto-foto Living With L.O.F berseliweran di instagram. Dari fotonya ini tempat kok lucu banget. Saya pengen banget ke sini tapi enggak pernah kesampaian. Akhirnya tadi sore saya dan sahabat saya, Wahyu, berhasil mendatangi tempat ini. Living With L.O.F ini gampang banget kok di cari. Letaknya di pinggir jalan di daerah Cipete, Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Haji Junaedi No. 2A, Cipete.

    Waktu pertama saya membuka pintu, saya langsung disambut warna putih dan hijau mendominasi interior. Seluruh café ini dinding dan furniturenya didominasi warna putih yang dihiasi pot-pot tanaman hijau yang peletakannya diatur sedemikian rupa sehingga interiornya jadi menarik dan memberi kesan adem dan nyaman. Di sisi kiri ada area kasir, di pojok kanan ada semacam counter untuk memesan makanan. Jadi kalau kamu ingin memesan makanan sistemnya kamu ke counter yang bertuliskan ‘order here’. Di sini kamu pesan makanan atau minuman yang kamu mau trus membayar sesuai harganya. Nanti kamu tinggal duduk manis dan pesanan kamu diantar deh.

    LOF 2

    L.O.F itu semacam café merangkap toko yang menjual tanaman. Pokoknya para pencinta tanaman, khususnya tanaman di dalam ruangan, pasti akan suka banget kalau ke sini. Tanamannya banyak banget jenisnya, belum lagi pot-potnya yang lucu. Laper mata pasti jadinya. Saya aja tadinya sempet mau beli tanaman. Tapi mengingat saya belum terlalu serius buat merawat tanaman jadi niatnya diurungkan. Sayang kan kalo tanamannya jadi mati gara-gara saya. Akhirnya saya dan Wahyu pesan kopi saja. Saya pesan Affogato, yaitu kopi Espresso yang dicampur es krim dan Wahyu memesan Affogato dan Cafe Latte.

    Kopi LOF

    Nih ya, walaupun kamu bukan pencinta tanaman kayaknya kamu tetep harus datang ke sini. Tempatnya memang tidak luas. Cuma ada 4 meja yang masing-masing dilengkapi dengan 4 kursi. Tapi walaupun kecil tapi nyaman tempatnya. Plus engga rame-rame banget. Jadi enak buat ngobrol sambil ngopi. Yang paling penting nih, minuman dan makanannya harganya terbilang masih murah. Dijamin Betah deh lama-lama nongkrong di sini.

    IMG_8398

    IMG_8400

     

    Living With L.O.F
    Jl. H. Junaedi No. 2A, RT 3 RW 4, Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
    Buka : Selasa – Minggu (10.00 – 21.00 WIB)

  • Plesiran Ke Museum Di Tengah Kebun

    Di Kemang itu ada museum loh. Iya beneran. Di daerah Kemang yang gahul itu ada museum keren yang bernama Museum Di Tengah Kebun.

    Saya mendengar tentang Museum Di Tengah Kebun sudah sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu lewat grup Whatsapp Penulis Pengelana sempat didiskusikan mengenai kunjungan ke sana. Tapi sayang museumnya sempat ditutup. Akhirnya kunjungan ke Museum Di Tengah Kebun terealisasi setahun kemudian 🙂

    Untuk mengunjungi Museum Di Tengah Kebun ini kamu harus bikin grup dulu berjumlah 7-10 orang. Setelah grup terbentuk baru daftar untuk kunjungan. Museum Di Tengah Kebun hanya di buka di Hari Sabtu dan Minggu. Waktunya bisa pagi atau siang hari. Jangan nekat dateng kalo belum daftar karena kamu enggak bakal dilayani. Kalo kamu sudah terdaftar siap-siap dateng di hari H. Jangan terlambat kayak saya karena waktu berkunjung ke Museum Di Tengah Kebun ini sangat terbatas.

    Museum Di Tengah Kebun 2

    Jadilah di suatu Sabtu siang yang kece, saya, Nevy Elysa, Hafida Meutia, Reza Ariesca, Mas Teguh Sudarisman, Irwan Khill, Mas Hamokh dan Mbak DeeDee Chaniago mengunjungi Museum Di Tengah Kebun. Agak susah sih nyari museum ini karena pintunya memang seperti pintu rumah biasa. Tapi kalo dideketin baru di sampingnya ada tulisan Museum Tengah Kebun. Setelah pintu dibuka kita akan melihat jalan masuknya yang bagus dan terawat. Kayak taman-taman mahal gitu deh. Baru kemudian melihat Museum Di Tengah Kebunnya.

    Museum Di Tengah Kebun 1

    Siang itu kami disambut oleh pemandu Museum Di Tengah Kebun yaitu Mas Rian. Sebelumnya kami harus menyimpan tas-tas kami dan mengganti sandal/sepatu kami dengan sandal di Museum Di Tengah Kebun. Setelah beres, kami diajak ke pintu depan rumah. Disini mulai terlihat benda-benda koleksi Museum Di Tengah Kebun. Di samping rumah ada Fossil Kerang yang berasal dari Maroko dari Masa Jurasic 230 Juta Tahun SM.lalu ada juga Fossil Pohon dari Masa Triasic 250 juta tahun yang lalu. Keren kan.

    Museum Di Tengah Kebun 3

    Museum Di Tengah Kebun ini merupakan rumah pribadi milik Pak Sjahrial Djalil. Beliau memang seorang kolektor benda antik yang keliling dunia untuk mengumpulkan koleksinya itu. Semua ruangan di rumah ini menjadi ruang pamer koleksi barang antik milik Pak Sjahrial. Mulai dari ruang tamu, ruang tidur, ruang makan dan ruang tengahnya. Koleksi di Museum Tengah Kebun ini ternyata belum semuanya loh. Ada lagi koleksi yang disimpan di tempat penyimpanan. Jadi kapan Pak Sjahrial mau dia akan mengganti koleksi di rumahnya dengan koleksi lain miliknya.

    Museum Di Tengah Kebun 4

    Yang unik lagi dari Museum Di Tengah Kebun ini dinding rumahnya berasal dari batu bata yang berasal dari bangunan peninggalan VOC. Seluruh koleksi di Museum Di Tengah Kebun ini jumlahnya sekitar 4.000. kayaknya seharian juga gak puas keliling-keliling di museum ini. Dari sekian banyaknya koleksi yang saya lihat, saya punya beberapa koleksi favorit.

    Museum Di Tengah Kebun 5

    Museum Di Tengah Kebun 6

    Museum Di Tengah Kebun 7

    Favorit saya ada koleksi Botol Anggur Merah dari Perancis di Abad ke-18. Selain koleksi Botol Anggur Merah itu ada juga koleksi tempat minum Napoleon dari Perancis awal abad ke-18. Tempat minum ini ada isinya loh. Yang paling keren nih adalah koleksi Cincin Pelacur dari Cina awal abad ke-19. Dan sebagai orang Bali pastinya saya suka koleksi Patung Ngaben dari Gianyar di awal abad ke-20 dan koleksi Patung Siwa dari India abad ke-19.

    Museum Di Tengah Kebun 8

    Saya sudah bilang kan kalo semua ruangan di Museum Di Tengah Kebun ini dipenuhi koleksi-koleksi benda antik? Nah kalo bicara soal ruangan saya paling suka ruang tengahnya. Ruangannya luas, terbuka dan menghadap langsung ke taman di belakang rumah. Adem banget deh. Enak buat selow-selow sambil ngobrol minum teh di sore hari. Tapi yang paling juara sih taman di belakang rumahnya yang luas banget. Di tengah taman ada pendopo. Disana kami boleh duduk-duduk beristirahat sambil disuguhi air mineral.

    Museum Di Tengah Kebun 9

    Oh iya, di taman belakang rumahnya ada prasasti gitu. Menurut Mas Rian lokasi ini adalah lokasi yang dipilih Pak Sjahrial sebagai makamnya jika beliau meninggal. Beneran deh, saya salut banget sama Pak Sjahrial yang mengumpulkan benda-benda antik dari Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Coba bayangin berapa biaya yang beliau habiskan untuk mengumpulkan koleksinya yang asli dan otentik ini.

    Museum Di Tengah Kebun 10

    Museum Di Tengah Kebun 12

    Museum Di Tengah Kebun 11

    Saya sangat menikmati kunjungan ke Museum Di Tengah Kebun ini. Kayaknya Jakarta butuh banget banyak tempat seperti ini. Dan kita juga sangat butuh orang-orang seperti Pak Sjahrial yang mau mengumpulkan benda benda antik asli Indonesia. Bukan malah dijualin 😦

    Museum Di Tengah Kebun 13

     

     

     

     

     

  • Happy Beachday!

    Tegal Wangi 1

    Bagaimana cara terbaik untuk merayakan ulang tahun? Jalan-jalan dong tentunya. Apalagi kalo bisa melihat sunrise dan sunset di pulau dengan pantai terindah.

    Saya lupa sejak kapan punya tradisi merayakan ulang tahun dengan jalan-jalan. Ya enggak tiap tahun sih. Tapi emang kalau bisa tiap tahun saya merayakannya di tempat yang berbeda. Begitu juga saat ulang tahun di tahun 2017 ini. Saya sudah merencanakan sekitar satu bulan sebelumnya bahwa saya mau merayakan ulang tahun di Kota Lasem. Teman-teman udah diracunin, info-info udah dikumpulkan. Tapi ternyata seminggu sebelum rencana keberangkatan satu persatu teman saya mengundurkan diri. Gagal deh rencana ke Lasem. Tapi enggak mungkin dong saya ulang tahun di Jakarta aja. Mana udah pamer sana sini mau birthday trip. Akhirnya saya mengubah destinasi perjalanan saya. Kemana? Ke Bali dong! 🙂

    Tiga hari sebelum ulang tahun saya membeli tiket ke Bali PP yang lumayan murah (rejeki anak manis mau ultah). Selanjutnya saya mengontak Danin sepupu saya untuk mengantarkan jalan-jalan. Inti pesannya begini “terserah deh kemana aja yang penting ngeliat sunrise”.

    Satu hari sebelum ulang tahun saya berangkat ke Bali. Saya mengambil penerbangan sore supaya siangnya saya bisa kerja dulu *ambisiuswati mode on*. Saya naik maskapai bergambar singa tapi berkelakuan kura-kura yang menjalankan rutinitasnya dengan baik yaitu delay selama satu jam. Jadilah saya sampai di Bali jam stengah 6 sore. Karena sudah deket waktu sunset, saya dan Danin mampir dulu ke Pantai Kuta untuk menikmati sunset sambil membicarakan itinerary besok.

    Kuta 1

    Rencana awal kami mau trekking ke Gunung Batur. Tapi dari hasil nanya kanan kiri ternyata cuaca di Gunung Batur sedang tidak baik dan tidak memungkinkan untuk trekking. Akhirnya agenda kami beralih menjadi ‘Main di Pantai’

    Kuta 2

    Pada hari ulang tahun saya jam 5 pagi kami siap-siap berangkat. Saya, Danin, Mitha berangkat dari rumah dengan membawa perbekalan mau piknik di pantai. Sebelumnya kami menjemput Daniel, temannya Danin, sebagai penunjuk jalan.

    Destinasi pertama kami adalah Pantai Melasti. Pantai Melasti ini adanya di daerah Ungasan, di balik dinding kapur. Pantai ini termasuk pantai yang ramai dikunjungi wisatawan di sore hari. Waktu saya kesana pantainya sepi banget, cuma kami berempat yang menikmati sunrise di pagi itu.

    Melasti 1

    melasti 2

    Setelah momen sunrisenya habis kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Karma. Untuk menuju Pantai Karma ini ada dua cara. Kita bisa turun naik lift dengan membayar Rp. 200.000 atau turun melalui 200 anak tangga. Kami memilih cara yang kedua. Yang penting turun dulu naiknya soal belakangan 🙂

    Pantai Karma 1

    Pantai Karma ini juga letaknya di Ungasan. Jadi kalau kamu jalan terus menyusuri pantai dari Pantai Melasti kayaknya bakal ketemu Pantai Karma. Di Pantai Karma ini juga sepi. Di Pagi hari itu cuma kami berempat yang ada disana. Eh enggak ding. Di restonya banyak bule-bule berjemur. Kegiatan kami disana ngapain? Selow selow aja sih menikmati pantai. Makan, tidur, susur pantai, snorkeling, main air, foto-foto. Begitu aja terus sampai muka gosong siang.

    Pantai Karma 2

    Pantai Karma 3

    Pantai Karma 4

    Tepat jam 2 siang kami akhirnya memutuskan untuk mencari makan siang dan persiapan melihat sunset. Kalau tadi pas turun tangga menuju Pantai karma kami masih bisa ngobrol dan ketawa ketiwi, nah pas naik tangganya kami mulai kepayahan. Biasa deh jarang olahraga. Ini ya kalau dipikir-pikir, niat olahraga saya selalu timbul ketika saya sedang kepayahan naik tangga atau trekking di setiap liburan saya. Abis itu ya ilang dengan sendirinya. Hehehehe 🙂

    Sehabis makan siang kami mengarahkan motor ke arah Pantai Tegal Wangi di daerah Jimbaran. Pantai ini dekat dengan Hotel Ayana yang keren itu loh. Nah, kalo dari pagi tadi kami selalu dapet pantai yang sepi-sepi, di Pantai Tegal Wangi ini rame. Banyak banget pasangan yang lagi foto prewedding. Trus yah, kalau tadi di Pantai Karma ombaknya kecil dan kami bisa berenang-berenang lucu, di Pantai Tegal Wangi ini ombaknya lagi gede. Ada adegan pas kami turun ke pantainya, baru jalan 100 meter udah disambut ombak yang gede banget. Karena kurang asyik jadinya kami kembali lagi ke sisi yang lebih aman. Nah di sisi pantai yang lebih aman ini kami sempat naik ke atas karangnya. Disitu kami duduk-duduk santai menunggu sunset sambil ngetawain setiap pengunjung di bawah yang disapu ombak. Hahahahaha 🙂

    Pantai Tegal Wangi 1

    Sekitar jam 18.00 sunset mulai datang. Sunset di Pantai Tegal Wangi ini memang juara. Kamu harus cobain lihat sunset disini. Ketika mataharinya sudah tenggelam kami naik lagi ke atas bukit untuk melihat after sunsetnya. Sunset dan After Sunset di Pantai Tegal Wangi memang luar biasa.

    Pantai Tegal Wangi 2

    Pantai Tegal Wangi 3

    Perjalanan di hari ulang tahun saya di tahun 2017 ini sukses besar. Terima kasih banyak buat sepupu saya Danin dan Mitha yang sudah rela menjadi guide seharian penuh. Selamat datang usia baru!

    Eh iya lupa. Ada satu lagi surprise di hari ulang tahun saya yang berkesan banget. Coba liat deh video ini. Terima kasih banyak Mbak Tia Magenta :*

     

     

     

     

     

     

  • [Wisata Rammang-Rammang 2] Damai Di Kampung Berua

    Berua 1

    Kamu lagi butuh suasana hening, tenang dan damai untuk merenung atau berkontemplasi mungkin?. Nah, kamu harus nyobain bermalam di Kampung Berua. Kampung yang dikelilingi pegunungan karst rammang-rammang ini menawarkan kedamaian khas pedesaan yang eksotis.

    Jadi ceritanya, setelah puas seharian menjelajahi rammang-rammang, saya dan teman-teman tiba di Kampung Berua. Sebelum menuju ke rumah sewaan, kami mampir dulu di rumah kepala Kampung Berua. Disana kami istirahat sebentar dan menumpang mandi. Suasana malam di Kampung Berua sangat hening dan gelap. Penerangan hanya ada di rumah-rumah penduduk saja. Ditambah sinyal handphone yang ala kadarnya, kadang ada kadang engga, semakin cocoklah Kampung Berua ini untuk menyepi.

    Ketika kesunyian di Kampung Berua semakin pekat kami pun beranjak tidur. Yang unik, di ruang tengah disediakan kelambu untuk tidur. Jadilah ini pertama kalinya saya tidur dengan menggunakan kelambu.

    Berua 2

    Memang nyaman tidur di Kampung Berua ini. Ketika saya bangun jam stengah 6 pagi suasananya masih hening. Hanya sesekali ada suara ayam di kejauhan. Beda banget dengan suasana kalau saya bangun tidur di Jakarta. Kalau di Jakarta saya bangun disambut suara mobil dan motor yang berseliweran di jalanan depan rumah saya. Kalau di Kampung Berua saya bangun disambut keheningan. Udara paginya jangan ditanya. Dijamin bersih dan sehat karena di Kampung Berua tidak ada kendaraan sama sekali. Bahkan motor pun tidak ada. Jadi engga ada tuh asap-asap knalpot disini.

    Pagi itu agenda kami adalah mencari sunrise. Pak Kimunk mengajak kami untuk menyusuri Kampung Berua untuk mencari spot terbaik untuk melihat sunset. Tapi sayang sekali sunsetnya enggak muncul. Jadilah kami lanjut jalan-jalan pagi menyusuri sawah dan rumah-rumah penduduk untuk melihat Batu King Kong.

    Ini dia video ala-ala suasana pagi di Kampung Berua

    Ini dia si Batu King Kong

    Selain kita dapat melihat Karst dan menikmati Kampung Berua, wisata Rammang-Rammang ini juga menawarkan keseruan menyusuri Sungai Pute. Mau tau gimana serunya naik perahu motor menyusuri Sungai Pute? Coba liat di video-video ini :

    Seru banget kan jalan-jalan ke Rammang-Rammang. Makanya kalo kamu kebetulan mengunjungi Kota Makassar jangan lupa berkunjung ke Rammang-rammang yah.

     

     

     

  • Selamat Hari Raya Nyepi
  • Pelajaran  Berharga dari Rafting di Sungai Pekalen

    Rafting Sungai Pekalen 3

    Banyak pelajaran berharga yang bisa kita dapat di kehidupan sehari-hari. Apalagi kalau kita suka traveling. Nah, ada satu pelajaran berharga yang saya dapat di Sungai Pekalen yang sampai sekarang masih suka saya inget. Jadi ceritanya, di suatu perjalanan menjelajahi Jawa Timur di Bulan Agustus 2015, Saya, Nevy Elysa, Dhede Wantah, Wahyu Basuki dan Tieky Kristian memasukkan itinerary ‘Rafting di Sungai Pekalen’ di hari kedua kami menjelajah Lumajang dan sekitarnya.

    Sungai Pekalen memiliki tingkat kesulitan di level 3. Saya yang baru pertama rafting agak ngeri-ngeri seru gitu deh. Tapi namanya penasaran ya lanjut. Kami menggunakan operator Songa Adventure. Sebelum berangkat menuju titik awal rafting kami diberi arahan singkat rafting seperti cara memegang dan menggunakan dayung dan lain-lain. Selesai pelatihan singkat tersebut kami langsung dibawa dengan menggunakan truk ke start point.

    Rafting Sungai Pekalen 4

    Rafting Sungai Pekalen 5

    Rafting di Sungai Pekalen ini SUPER SERU!. Kami melalui puluhan jeram yang seram-seram asyik. Momen paling serunya adalah ketika kami melewati air terjun Gua Kelelawar. Kami semua menjerit-jerit kegirangan. Bayangin aja sensasinya ketika air terjun super deras itu menimpa badan kita. Segar. Ada momen yang sedikit menakutkan ketika Wahyu terjatuh dari perahu. Untung saja tidak hanyut. Hahahaha.

    Sekitar setengah perjalanan perahu kami menepi. Kami bergabung dengan peserta lain duduk di batu-batu di sebuah warung. Disana kami diberikan teh hangat dan pisang goreng. Masing-masing perahu sudah diberi jatah pisang goreng satu piring dimana ketika dibagi rata masing-masing peserta mendapat satu pisang goreng. Kami yang lapar ceritanya mau nambah pisang goreng. Nah, kebetulan Tieky mengantongi uang seratus ribu yang basah kena air. Mendekatlah kami ke si ibu yang membagikan pisang goreng dengan muka pede jaya. “Bu, beli dong pisang gorengnya”, kata Tieky sambil mengulurkan uang seratus ribu basah ke ibunya. “Abisin ini semua bu”, Wahyu menimpali. Apa yang terjadi? Si Ibu dengan cueknya mengemasi barang-barangnya dan berkata “Pisang gorengnya udah abis”, sambil melenggang pergi meninggalkan kami dan uang seratus ribu basah kami.

    Rafting Sungai Pekalen 6

    DCIM100GOPROG0041020.

    Kejadian ini akhirnya meninggalkan pelajaran penting bagi kami. ‘Uang tidak bisa membeli segalanya‘. Kami langsung ketawa-ketawa geli dengan kejadian tadi. Saking membekasnya, kami suka mengulang kata-kata “Gak usah kerja terus lah, lo lupa pelajaran di Pekalen?. Uang tidak bisa membeli segalanya!” ketika salah satu diantara kami menolak ajakan ngetrip dengan alasan kerja 🙂

    Nah, kalo kamu punya pengalaman apa selama ngetrip? Share dong 🙂

  • [Wisata Rammang-Rammang 1] Menyusuri Pegunungan Karst Rammang-Rammang

    rammang-rammang-1

    Tahukah kamu apa itu Karst? Tahukah kamu kalau kawasan Karst terbesar ketiga di dunia ada di Indonesia? Engga tahu? Sama. Saya juga baru tahu ketika saya mengunjungi Rammang-Rammang, Kawasan Wisata Karst di Maros, Makassar.

    Berawal dari “racunnya” sohib saya Bekti Triyono, akhirnya saya mengunjungi Rammang-Rammang. Kali ini teman perjalanan saya adalah Bekti Triyono, Rizki Amaliah, Mitha Fadilla dan Mas Jufri Zigel. Kami berlima start dari Makassar selepas makan siang sehabis menikmati Ulu Juku yang maknyus itu.

    rammang-rammang-2

    Perjalanan dari Makassar menuju titik pertemuan kami di Dermaga 01 Rammang-Rammang ditempuh selama 2 jam naik mobil. Sampai di Dermaga 01 kami disambut oleh Pak Kimung. Beliau adalah relawan dan pemerhati Rammang-Rammang yang akan mengantarkan kami menjelajah Rammang-Rammang. Ada celotehan lucu dari Pak Kimung ketika kami sedang sibuk memakai lotion sunblock “kalo ke Rammang-Rammang engga cukup pake sunblock, kalian harus pake konblok”. Hahahaha 🙂

    Menikmati pegunungan Karst Rammang-Rammang bisa dengan 2 cara. Naik perahu atau dengan trekking. Kami memilih cara yang kedua. Jadilah di siang bolong yang sangat panas itu kami mulai berjalan menyusuri kawasan wisata karst Rammang-Rammang. Asumsi perjalanan akan ditempuh selama 2 jam. Tapi jadinya molor, sih. Bukan, kali ini bukan karena saya kecapekan lagi. Tapi karena Rammang-Rammang memang luar biasa indah dan tak bosan untuk dinikmati.

    rammang-rammang-3

    Pemberhentian pertama kami adalah di Taman Batu Kampung Laku. Pemandangannya? Ruar biasa! Perpaduan bebatuan Karst, pepohonan hijau dan langit biru menjadikan pemandangannya luar biasa.

    Beruntung kami memilih berjalan kaki menyusuri Rammang-Rammang karena kami diajak Pak Kimung ke tempat-tempat yang belum dibuka untuk umum. Yay! Kami diajak menelusuri lorong-lorong karst dan menemukan beberapa spot yang cukup unik untuk difoto. Beberapa kali Pak Kimung menekankan kalau Rammang-Rammang ini harus dijaga dengan baik karena dia tidak mau Rammang-Rammang tidak terawat dan penuh dengan sampah. Makanya beberapa spot belum dibuka untuk umum. Saya sangat setuju dengan Pak Kimung, Sayang sekali jika kawasan karst indah ini harus rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

    rammang-rammang-4

    Saya baca di Wikipedia bahwa daerah Karst terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan Hidraulik dan pergerakan tektonik. Bener banget nih, karena ketika saya menelusuri lorong-lorong karst ini ada bagian yang di kanan kirinya sama seperti bekas dilalui oleh gelombang air.

    Salah spot menarik selain spot rahasia yang kami kunjungi adalah Taman Hutan Batu Alquran. Taman Batu ini memang letaknya di dekat Taman Pendidikan Alquran. Kamu pernah melihat desain kolam ikan kan yang ada tebing-tebingnya itu kan? Nah ini adalah versi raksasanya.

    rammang-rammang-5

    Selepas dari Taman Batu Alquran kami melanjutkan perjalanan menyusuri Rammang-Rammang. Kali ini kami ingin melihat batu yang berbentuk seperti kura-kura. Disini kami harus bertemu dengan medan yang menantang dan harus melewati celah-celah karst yang sempit. Penuh perjuangan deh.

    rammang-rammang-6

    rammang-rammang-7

    Batu yang dibilang seperti kura-kura ini memang unik. Karena dia akan berbentuk kura-kura jika difoto dari sudut yang tepat. Jika tidak maka batu ini akan berbentuk lain. Saya sempat foto batu ini kok jadi mirip kepala orang dengan hidung Pinokio yah? Hehehehehe.

    rammang-rammang-8

    Hari sudah semakin sore, saatnya mengejar matahari senja. Pak Kimung mengajak kami naik lagi keatas bukit untuk menikmati sunset. Walaupun akhirnya sunsetnya turun dengan malu-malu tapi pemandangannya tiada tara. Oh iya, disini kami sempat istirahat sebentar di Café Taman batu Rammang-Rammang milik penduduk sekitar sambil menikmati minuman dingin.

    Selesai menikmati sunset kami berjalan lagi menuju Dermaga 02 untuk naik perahu ke Kampung Berua. Tapi sebelumnya kami diajak melihat Pohon Natal. Apa itu Pohon Natal? Jadi, di pinggir-pinggir sungai Pute ini banyak kunang-kunang. Kunang-kunang yang memancarkan cahaya di kegelapan ini merubungi pohon sehingga di kegelapan mirip seperti pohon natal. Saya tidak dapat mengabadikan pohon natal dengan kamera saya. Yah, memang ada beberapa hal yang hanya bisa dinikmati sendiri dan tidak dapat dibagi. Haseg! 🙂

    rammang-rammang-10

    Tiba di Kampung Berua hari sudah malam. Kami mampir sebentar di rumah Daeng Beta, kepala Kampung Berua untuk mandi. Sehabis mandi kami makan malam dan menuju ke rumah yang kami sewa tepat di sebelah rumah Daeng Beta.

    Suasana malam di Kampung Berua yang sunyi dan damai mengantarkan saya ke alam tidur dengan membawa kenangan sepanjang perjalanan seharian tadi. Perjalanan kami menyusuri rammang-rammang akan kami lanjutkan esok hari di postingan selanjutnya, yah.

    Selamat tidur Kampung Karst….mimpi manis.

  • Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan